Beranda > Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar > Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar

Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar


1. Syahadat (Sasahidan Ingsun Sejati)

Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat mengucapkannya, walau kebanyakan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi.

Ketika kita mengucakan kata “Allah”, maka kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan yang mendalam. Pada saat pengucapan, kita harus yakin bahwa Allah “ada” pada diri nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu hal yang selalu hidup. Dan ketika person nabi terakhir diberi label “Muhammad”, maka ia adalah langsung dari nur dan ruh Muhammad, dan menyandang nama spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata “Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa mim), yakni “Ahad”. Ketika suku bangsa dzahir “arab” disebutkan, beliau sering mengemukakan “ana ‘arabun bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni “Rabb”. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.

Kalau kita membayangkan nabi secara fisikal maka kita akan menghayalkan tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati kita, maka terlepaslah ucapan “Muhammad al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat Allah. Sehingga kemudian tercipta apa yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji”, kemanunggalan dengan Allah sehingga baik yang memuji dan yang dipuji tidak dapat dipisahkan.

Pada konteks syahadat yang seperti itulah kemudian lahir ajaran tentang “wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)

Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.

Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku


Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa kesaksian tersebut diperoleh berdasarkan lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian tersebut juga harus disertai dengan lelaku pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam mati. Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-heneng-kan diri dan mengheningkan cipta serta karsa sehingga kembali tercipta kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup. Hal ini dilakukan dengan menyatukan pancaindera, memejamkan mata dan mengarahkannya ke pucuk hidung (pucuking ghrana), sambil menyatukan denyut jantung, harus diatur pula pernapasan yang masuk dan keluar jangan sampai tumpang tindih.

Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada bercampurnya rasa hati dan hilangnya segenap perasaan. Kalau sudah mencapai kondisi ini, maka harus diturunkan ke dalam jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan memunculkan sikap ke-waskitha-an (eling lan waspadha).

Dengan demikian wajar jika pada kesimpulannya tentang makna syahadat, Syekh Siti Jenar memberikan makna syahadat sebagai etos gerak, etos kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh siti jenar mengemukakan bahwa syahadat tauhid dan syahadat rasul mengandung makna jatuhnya rasa (menjadi etos), kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya rasa (ide aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap kesejatian kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah makna syahadat yang sesungguhnya dari sang insan kamil.

2. Sholat

“Peliharalah shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalat) yang khusyuk” (QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini adalah penegasan dari Allah tentang kewajiban dan keharusan memelihara shalat, baik segi dzahir maupun batin dengan titik tekan “khusyuk”, kondisi batin yang mantap.

Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah, sujud, duduk dsb. Kesemuanya melibatkan keseluruhan anggota badan. Inilah shalat jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan badan berlaku dalam semua shalat, maka dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala shalat) yang berarti jamak. Dan ini menjadi bagian pertama, yakni bagian lahiriah.

Bagian kedua adalah tentang shalat wustha, yaitu yang secara sufistik adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”, maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada diantara dua jari Allah, dimana Allah membolak-balikkannya ke mana saja yang ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang Lemah Lembut.

Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk, maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat dipahami apa yang diucapkan, dan tentu apa pun yang dilakukan dengan bacaan dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.

Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli akan makna shalat rohani, shalat yang dilakukan tersebut tidak akan memberikan manfaat apa pun. Sebab semua yang dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan. “Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah)

Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat hadir kepada Allah.

Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua hal, baik tempat, waktu, kesucian badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan terus menerus sejak di dunia hingga akhirat. Masjid untuk shalat rohani terletak dalam hati. Jamaahnya terdiri dari anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang ber-dzikir dan membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam dalam shalat rohani adalah kemauan atau keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.

Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya adalah untuk beribadah.

Inilah ibadah orang yang sudah mencapai ma’rifatullah, tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang teguh dan suci tercurah hanya kepada Allah.

Namun tentu saja ini berlaku setelah semua shalat-shalat fardhu dan nawafil dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu masuk ke dalam shalat thariqat dan ma’rifat. Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi melakukan shalat sama sekali. Bahkan sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’ dalam munajat-nya sehingga ibadah yang dilakukannya itu menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk shalat dalam arti gerakan dan bacaan tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah.

Pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut. Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku’, sujud, dsb. Dia telah berbincang dengan Allah sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah/1: 5)

Firman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil, yakni mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber”padu” dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya yang dapat mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya. Tidak ingin membocorkan rahasia Ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.

Hal tersebut sama halnya dengan hakikat takbir, yang bukan semata-mata ucapan “Allahu Akbar”. Takbir merupakan pengucapan yang lahir dari firman Allah yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi, takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan hasil dari dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati merupakan penghayatan diri terhadap sifat Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan nama-Nya yang lahir dari kehendak-Nya semata. Dengan takbir yang demikian itu maka yang lain menjadi sangat kecil, dan menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah. Ke mana pun kita menghadap yang ada hanya Wajah Allah.

Maka setelah berpadu ibadah lahir dan batin secara harmonis, sempurnalah ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya masuk ke Hadirat Allah. Hatinya ber”padu” mesra dengan Allah. Dalam alam nyata ia menjadi hamba yang wara’ dan ‘alim. Dalam alam rohani ia menjadi ahli ma’rifah yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal Allah. Inilah makna bahwa shalat adalah perjalanan menuju Allah. Hasilnya adalah bahwa shalat yang dilaksanakan mencegah perilaku yang keji dan munkar. Sebaliknya menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku.

Jika shalat telah dihilangkan makna hakikatnya, hanya menjadi sekedar pelaksanaan hukum fikih sebagaimana tampak pada kebanyakan manusia dewasa ini, maka shalat tersebut telah kehilangan makna fungsionalnya. Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam dari Syekh Siti Jenar.

Sadat salat pasa tan apti
Seje jakat kaji mring Mekah
Iku wes palson kabeh
Nora kena ginugu
Sadayeku durjaning bumi
Ngapusi liyan titah
Sinung swarga besuk
Wong bodho anu auliya
Tur nyatane pada bae durung uning

Artinya:
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa makna
Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu
Tidak bisa dijadikan anutan
Hanya menghasilkan kerusakan di bumi
Membohongi makhluk lain
Hanya ingin surga kelak
Orang bodoh mengikuti para wali
Sementara kenyataannya sama saja belum mencapai tahapan hening

Syekh Siti Jenar mengkritik pelaksanaan hukum fikih pada masa walisanga karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan tujuan, kehilangan arti, dan hikmah kehidupan. Hal itu menjadikan semua ajaran agama yang diajarkan oleh para ulama ketika itu menjadi kebohongan yang meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum ada kenyataanya.

Oleh karenanya Syekh Siti Jenar mengajarkan praktik shalat fungsional, berbeda dengan para wali pada masanya. Shalat tarek sebagai bentuk ketaatan syari’at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan mewarnai seluruh pekerti kehidupan. Seseorang yang melaksanakan pekerjaan profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas, dan karena melaksanakan fungsi lillahi ta’ala, maka orang tersebut disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari shalat da’im.

Namun ternyata, ajaran shalat fungsional tersebut tidak hanya menjadi milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil bait 12-13, sebuah naskah yang ditulis pada awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan ajaran Sunan Bonang, menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut:

Utamaning sarira puniki
Angrawuhana jatining salat
Sembah lawan pamujine
Jatining salat iku
Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka
Wenange punika
Lamun aranana salat
Pun minangka kekembanging salat daim
Ingaran tata krama
Endi ingaran sembah sejati
Aja nembah yen tan katingalan
Temahe kasor kulane
Yen sira nora weruh
Kang sinembah ing donya iki
Kadi anulup kaga
Punglune den sawur
Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adan sarpin
Sembahe siya-siya.

Artinya:
Unggulnya diri itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat daim. Hanyalah tata krama . manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu? Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya hanya disebarkan, tapi burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.

Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Hyang Maha Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat. Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan sembahyang. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus. Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar-an. Mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin.

3. Puasa

Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua pancaindera dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis.

Puasa dari segi rohani akan batal bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. Terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat du dunia dan akhirat. Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan diatas pembersihan.

Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan terhadap Allah. Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba. Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain.

Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa saat berbuka dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang ‘arif. Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya. Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan matahati sebagai salah satu efek dari puasanya.

Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas. Puasa ini adalah puasa menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, dan mencari ghairullah (yang selain Allah). Puasa ini dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. Namun walaupun seseorang telah sampai kepada tahapan puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai cara serta sarana menggapai kesehatan fisik. Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis palson kabeh”, hanya sebentuk kebohongan beragama semata. Puasa merupakan tindakan rohani untuk mereduksi watak-watak kedzaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya.

Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya. Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak. Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. Dengan puasa hakiki, ruh itu diaktifkan. Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa hakiki batal maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. Puasa hakiki hanyalah menempatkan Allah di dalam hati, menjalani proses kemanunggalan meng-Gusti-kan perwatakan kawula.

Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai ma’rifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda. Secara lahiriah keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki, tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi rohani kita.

Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan mampu menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurullah. Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan menuju kearah al-Haqq, Illahi Rabbi.

Bagi Syekh Siti Jenar, puasa hakiki akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan. Puasa hakiki adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan ke-dzalim-an sebagai hal yang harus ditundukkan.

Oleh Syekh Siti Jenar, puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri. Bukan sekedar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu “ngelakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan. Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya. Dan tentu saja, Syekh Siti Jenar tidak memaknai “kudu luwe” sebagai alasan lembeknya manusia secara fisik. Hal tersebut harus dikontekstualisasikan dengan kecukupan gizi yang harus terpenuhi bagi aktivitas fisik. Yang terpenting adalah kemauan dan kesadaran untuk berbagi, untuk tidak hanya memuaskan apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya.

4.Zakat

Syekh Siti Jenar memberikan makna aplikatif zakat sebagai sikap menolong orang lain dari penderitaan dan kekurangan. Menolong orang lain agar dapat hidup, menikmati hidup, sekaligus mampu bereksis menjalani kehidupan. Syekh Siti Jenar sendiri bertani yang merupakan pekerjaan favorit pada masa hidupnya. Namun tidak semua masyarakat petani berhasil hidupnya sebagaimana pula tidak selalu berhasil baik dari panennya. Yang tidak berhasil panennya tentu mengalami kekurangan bahkan kelaparan. Syekh Siti Jenar selalu membantu mereka yang kurang berhasil tadi dengan memberikan sebagian hasil panennya dari tanahnya yang luas kepada mereka itu. Inilah yang disebut sebagai zakat secara fungsional.

Suka memberi adalah sifat-Nya, dan Dia senang melihat hamba-Nya mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya itu. Perbendaharaan Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi Dia akan memberi dengan tangan-Nya yang terbuka. “Barang siapa yang datang membawa amal yang baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari kita, dan barangsiapa yang datang membawa perbuatan yang jahat, dia tidak mendapatkan pembalasannya, melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (QS Al-An’am/6: 160)

Sebagaimana makna katanya, zakat memiliki kegunaan sebagai arena pembersihan harta dan jiwa. Terutama membersihkan dari keegoan, sehingga tujuan zakat rohani menjadi tercapai. “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dia akan mendapatkan pahala yang banyak”.(QS Al Hadid/57:11). Inilah hakikat pahala zakat, baik jasmani maupun rohani.

Sehingga terhadap harta pinjaman dan titipan dari Allah, kita melakukan penyucian diri dengan mengeluarkan zakat, bersedekah, serta berbuat amal jariyah. Dalam hal inilah, patokan kita bukan sekedar patokan minimal 2,5%, namun bisa lebih dari itu. Bahkan para sufi terkadang berzakat 100% dari seluruh harta yang diterimanya. Selain ia membersihkan dari daki-daki dunia, ia juga memanjangkan umur dan menyelamatkan diri dari siksa sengsara akhirat. Betapa beruntungnya para pemilik harta yang menyedekahkan hartanya sehingga ia mendapatkan ganjaran yang tidak dapat ditebus dengan uang nantinya. “Mereka yang menyedekahkan hartanya kepada orang lain, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan, harta itu akan bertambah, dan bertambah.” (Sabda Nabi).

Jadi, pemahaman sufi atas harta jelas. Harta dan semua yang ada adalah milik Tuhan. Manusia diberi limpahan-Nya agar digunakan sebagai alat bagi perjalanan rohaninya menuju Tuhan. “Kamu tidak akan sampai kepada ketaatan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan itu, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran/3:92). Zakat bagi para sufi merupakan langkah untuk memberikan “kado” atau hadiah terindah untuk Tuhan, sekaligus untuk manusia dengan disertai kebersihan niat jiwa, dan kesucian hati. Tegasnya, sebagaimana dikemukakan Syekh Siti Jenar, zakat adalah kesediaan untuk menolong manusia yang kekurangan, baik harta fisik maupun harta rohani sehingga mereka terhindar dari kemiskinan, kekurangan, kelaparan fisik maupun spiritual. Betapa indahnya dunia jika dihuni manusia sufi seperti ini.

5.Haji
Haji menurut Islam-Jawa yang sebagian merupakan warisan ajaran Syekh Siti Jenar tidak lain adalah olah spiritual. Karena kalau hanya sekedar mengunjungi Makkah dalam arti fisik, bagi orang Islam-Jawa itu cukup dengan “ngeraga sukma”. Dalam arti seseorang mampu pergi ke Makkah kapan saja dia mau. Oleh karenanya, bagi mereka, Makkah letaknya bukanlah sebatas geografis, yakni terletak di Dataran Arab Saudi. Bagi Muslim-Jawa, Makkah berada di dalam spirit manusia yang tidak ditempuh dengan hanya menggunakan bekal rupiah. Hal ini dapat ditinjau dari ungkapan dalam Suluk Wijil:

Samana ngling Molana Maghribi
Singgih pakanira awangsal
Nora ing Mekah rekeh
Ing Mekah kulon iku
Mekah tiron wastanireki
Watu ingkang kinarya
Pangadhepan iku
Nabi Ibrahim akarya
Nusa Jawa yen tuwan tinggala kapir

Lan tuwan awangsul
Nora ana weruh ing Mekah iki
Alit mila teka ing awayah
Mang tekaa parane
Yen ana sangunipun
Tekeng Mekah tur dadi wali

Sangunipun alarang
Dahat dening ewuh
Dudu srepi dudu dinar
Sangunipun kang sura lagaweng pati
Sabar lila ing donya

Artinya:
Maulana Maghribi berkata demikian,” Baiklah engkau kembali, yang engkau cari tidak ada di Makkah. Makkah yang terletak di barat(Nusa Jawa) itu, Makkah tiruan namanya. Batu yang dibuat sebagai tempat menghadap adalah buatan Nabi Ibrahim. Jika Nusa Jawa engkau tinggalkan, akan menjadi kafir// Tak ada yang tahu dimana Makkah yang sebenarnya. Meski ia harus berjalan dari kecil hingga tua. Tak akan mencapai tujuan. Jika ada bekal sampai di Makkah dan menjadi Wali, maka bekalnya sangat mahal, sukar diperoleh. Bukan rupiah maupun dinar bekal tersebut. Tapi keberanian, kesanggupan mati, dan sabar serta ikhlas di dunia).

Dari penuturan suluk wujil tersebut, jelas bahwa haji adalah olah spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu berani dan sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di dunia. Dimana ruh masih terpenjara dalam wadaq ini. Hidup ikhlas adalah hidup tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, kelezatan hidup di dunia (Chodjim, 2002,209). Maka keikhlasan menjalani hidup menjadi tujuan dari haji. Untuk dapat ikhlas perlu laku atau olah spiritual.

Untuk mampu memperoleh laku yang benar, juga diperlukan keberanian dan kesanggupan memilih jalan yang diyakini benar. Sebagiannya adalah keberanian dan kesanggupan untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala perbuatan yang tercela dan mungkar. Hati terbebas dari segala iri, dengki, dendam, kesumat, kikir dan tamak. Pikiran bersih dari keterikatan dengan kelezatan dunia. Rohani dimerdekakan, dan keberagamaan tidak terbelenggu oleh sekedar formalitas. Dan untuk itu semua dibutuhkan kesabaran, memiliki daya juang, dan tidak mudah menyerah dalam upaya mencapai tujuan. Tegar dan kokoh dalam perjuangan hidup yang benar, dan kemauan mempertahankan keyakinan atas kebenaran itu.

Di balik kesabaran itu, juga tersembul kemauan menjaga harmonisme segala hal di dunia ini. Tidak egois, tidak mau menang sendiri, tidak menyerobot hak orang lain. tidak mempermainkan kekuasaan, tidak melanggar hak-hak orang lain. ia selalu memperjuangkan hak hidup dengan tanpa mengorbankan hak orang lain. ia memperjuangkan haknya sekaligus hak orang lain.

Muslim Jawa dalam beragama tidak hanya terikat pada simbol. Sehingga termasuk Ka’bah misalnya, yang berada di Makkah hanya disebut sebagai tiruan yang dibuat manusia. Ka’bah yang sesungguhnya tidak diketahui letaknya karena berada di alam spiritual. Ka’bah diri berada di kedalaman ceruk hati. Oleh karenanya kebenaran dan kejujuran tidak harus diburu di Makkah, justru di Jawa juga menyediakan banyak ajaran spiritual yang jika ditinggalkan untuk memburu di Makkah, malah membuat orang Jawa akan menjadi kafir. Yakni akan kehilangan kebijaksanaan tradisional dan spiritualitas yang genuine dari kedalaman dirinya sendiri. Untuk menciptakan kesejahteraan, ketentraman, dan untuk mampu mendekati Tuhan, ternyata memang seharusnya tidak boleh meninggalkan kebijaksanaan yang berakar pada tradisi ritual dari bangsa lain. Allah menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-nya masing-masing. Untuk itulah konsep keberbedaan harus disatukan dalam kerangka lita’aruf (saling mengenal). Mereka yang mampu mengenal hikmah yang beragam itu disebut Allah sebagai mereka yang paling sanggup mencapai ketakwaan.

  1. Aswatama Pandu
    27 Maret 2010 pukul 12:00

    Mantab tulisannya,sayang hanya segelintir orang saja yang memahami dan mau belajar untuk memahami. Bangsa kita terlalu lama ikut – ikutan yang mengakibatkan rusaknya tatanan di bumi pertiwi ini (wong jowo wis ilang jawane).

  2. sri rahmanto
    19 April 2010 pukul 20:35

    Alhamdulillah aku bisa menemukan tulisan yang selama ini aku cari

  3. 25 April 2010 pukul 14:26

    Dimana bisa ku temui guru untuk mempelajari ilmu ini, kabarnya guru2 yang bisa sperti ini sangat menutup diri karena inilah rahasia sebenarnya.

  4. 4 Mei 2010 pukul 06:18

    heheheee, klo dah waktunya pasti keemu bro :D

    • 16 Januari 2012 pukul 11:18

      assalaamu’alaikum mas.mau mebalas mas aing.mas aing sebelumnya lam kenal namaku afit
      posisi gresik.sampean tinggal dimana.soal guru ilmu tauhid yg saya tau ada di surabaya dan juga gresik.cuman posisinya yang di gresik saya belum tau.cuman tau daerahnya namanya ngebret dari kota gresik ke arah selatan.+-10km.kalo di surabaya kali judan atau kalau sampean sudah mantab dalam hati dan posisi dekat dengan surabaya.email ke aku afit_zain@yahoo.com.marilah bersama² belajar ilmu sejati wassalam.

      • Anonymous
        2 Mei 2012 pukul 00:14

        gresik daerah kec,cerme…..

    • 14 September 2012 pukul 19:43

      man arofa nafsahufaqod arofa robbahu…

  5. tyo
    14 Mei 2010 pukul 18:34

    pengajaran syeh siti jenar levelnya terlalu tinggi tuk d fahami orang awam…
    belajar dlu dari pengajaran wali 9. krna pengajaran wali 9 mudah d mengerti tuk org awam seperti kita agar tidak terjadi kesala fahaman(agar tidak tersesat) bila ingin mencapai puncak pemahaman makna sebenarnya.. belajarlah dlu dari bawah ke artas.. sok tau ya gw… hehehehehe

    • 16 Januari 2012 pukul 11:36

      jangan bilang terlalu tinggi mas.mungkin sampean belum mempelajarinya saja.sudahkah anda sholat 5 waktu dg rutin/tertib/zakat.puasa dan amaliah syar’i lainnya.insyalaah kalo sampean mau bealajar akan mendapatkan ilmu/pengetahuan baru yg selama ini belum anda ketahui.seperti penjelasan di atas tadi tentang sholat.carilah Guru/mursid yg bisa mengantarkan sampean ke tatanan ibadah yang paling tinggi(makrifatullah).example ada suatu kecelakan misalnya terus berurusan kepolisi.sangpolisi untuk mengungkap kecelakaan itu tadi membutuhkan saksi untuk bersaksi.bahwasannya saksi itu bener bener mengetahui kejadian/yg di saksikannya dg sebenar benarnya,kembali kepermasalahan anda tau kan akan rukun islam yg pertama syahadah/menyaksikan(Allah),pertanyaan saya anda bersaksi taukah kepada yg kamu saksikan(Allah).disitu ada hikmah besar.kalo sampean mau belajar.Amin Semoga Allah memberi jalan Saudara.

      • iyan
        20 Januari 2012 pukul 22:42

        ente kayak orang paling bener aja kalo ngomong Rasul bersabda:Akulah yg paling taqwa,aku pernah bermalam di sisi Tuhan ku ,maaf siapa syehk siti jenar apa jasa besar nya buat Islam kok dia seperti panutan bagi anad sya menghormati beliu Sangat hormat tapi Nabi muhammad Adalah Panutanku,maaf salam

  6. Udin
    21 Mei 2010 pukul 14:37

    Sudah saatnya ajaran syeh siti jenar di jadikan landasan utama kehidupan di indonesia ini,lihat saja sekarang kehidupan semakin semrawut.Semakin banyak orang jahat,teroris,koruptor,penipu,karena kurangnya pemahaman terhadap ilmu spiritual yg benar.Tidak fahamnya makna hari pembalasan,tentang apa dosa,surga,neraka.Kebanyakan pengertian mereka dosa,pahala,surga,neraka dihitung dan di berikan setelah manusia mati

    • dana
      22 September 2011 pukul 16:55

      setuju

  7. Udin
    22 Mei 2010 pukul 21:49

    Saya kira ajaran syeh siti jenar lebih nyata dan lebih mudah difahami,karena ajaran ini berdasar pada kenyataan yang ada.Tanpa iming-iming tanpa ancaman-ancaman seperti yg selama ini di ajarkan oleh wali2 lain.Ajaran ini benar2 nyata dan bisa dibuktikan secara lahiriah atau dalam kenyataan kehidupan sehari2.Kalau ada yang bilang ajaran ini sulit difahami,mungkin karena orang itu mengalami keterbatasan mental atau mungkin karena seringnya selama ini di cekokin ajaran2 yg kurang tepat seperti ajaran yang dianut kebanyakan manusia di negeri ini.Yg selalu mengucapkan orang yg tidak sama dengan mereka artinya kafirlah,babi,anjing.Mereka itu yg sebenarnya anjing,mereka membunuh mengadili orang yang tidak sefaham dengan mereka.Ada juga yg memfitnah ajaran lain sebagai ajaran sesat

  8. 25 Mei 2010 pukul 08:11

    Ass Wr Wb
    Mas Sableng isun iki wong sing lahir ning cirebon tapi wis ninggalnang cirebon suwe (mulai 1978), sekien ana ning rantau (Kupang), butuh ceritane walang sungsang lengkap. Priben bisa kirim beli? sory nganggo bahasa Cirebon supaya beli klalen. Alamat FB ne apa?

    Was Wr Wb

  9. Kemal firdaus
    26 Mei 2010 pukul 15:24

    Sejuk…

  10. 5 Juni 2010 pukul 09:42

    yaaaaaaaaaa………., pergi hajilah ke Mekkah. Alih-alih ngasih makan orang yang tanahnya tandus. Padahal disini juga banyak saudaranya yang kelaparan. Sadar euy…!

  11. 24 Juni 2010 pukul 15:02

    yen Ajeng sinau, kalau mau belajar ajaran syech siti jenar/syeh jabaranta carilah mursyid thoreqoh sytariah, semoga berjumpaa….

  12. 2 Juli 2010 pukul 12:50

    poer :
    yen Ajeng sinau, kalau mau belajar ajaran syech siti jenar/syeh jabaranta carilah mursyid thoreqoh sytariah, semoga berjumpaa….

    DiSumenep Madura banyak Mas Mursyid thoreqoh syatariah, cuma rata2 kagak mau ngaku. wkwkwkwkwk!

  13. Anonymous
    8 Juli 2010 pukul 11:01

    PErkataan Syeikh Siti Jenar adalah ketika kedatangan zauk atau fana dirinya….kalam ALLAH tersirna dihatinya….dalam keadaan mabuk cinta kepada ALLAH..yang berkata adalah kalam ALLAH atas hatinya..ALLAH mmeperkenalkan dirnya yang sejati pada hati Syeikh Siti Jenar….dan Syekh mengenal siapa itu ALLAH..bukan pengucapan zahiriah..itu adalah ucapan keruhanian yang tidak disengajakan….andai kata pengucapan ini keluar dari pengucapan diri kita adalah syirik…kerna diri kita mengaku Tuhan…ini hendaklah difahami..mengapa Al-Halaj dan Syeikh Siti Jenar berbeza dengan firaun yang mengaku Tuhan….. Ucapan Firaun dalah pengucapan dirinya….ucapan Al-Halaj dan Syeikh Siti Jenar adalah kalam ALLAH yang ditajalikan atas dirinya dalam ruhaninya itulah bezanya……..inilah kelebihan umat Muhammad yang ALLAH nmengizinkan ia mentajalikan dirinya….

  14. Mbah Sastro
    23 Juli 2010 pukul 19:38

    kalo diitung2 90 persen pejabat.memahami ajaran syeh siti jenar. Aq yakin lah Indonesia g seperti sekarang ini. Rebutan donya…..melulu.

  15. Dyas
    31 Juli 2010 pukul 15:29

    berbahagialah yang sungguh-sungguh telah memahami tentang “AKU”,,,salam

  16. dimas
    5 Agustus 2010 pukul 15:35

    bagus….
    teruskanlah…..
    sebab zaman sekaranglah yang di sebut “zaman kebodohan”
    sebab kita harus menggali dan mencari ilmu kehidupan……
    intinya kita harus mencari wujud kita yang sesungguhnya….
    yang nantinya bisa menuntun kita pada saat kita meninggal dunia nanti….betul????

  17. 8 Agustus 2010 pukul 01:46

    kunci hidup bangsa spy mkmur n sjahtera adl pd stiap individu tuk bsa mnata diri pribadinya sndiri2.tdk peduli atasan atau bwahan berusaha mengoreksi diri,sesuai dgn posi2x dlm negara ini

  18. Surahmadi
    19 Agustus 2010 pukul 01:10

    tolong minta harga pembuat air minum kemasan lengkap dari yang termurah. dan bagaimana cara pesan dan sistem pembayarannya. thanks

  19. 20 Agustus 2010 pukul 08:34

    menurut ogut…syeh siti jenar tdk pernah ada orangnya..itu hanyalah symbol..syeh siti jenar sebenarnya adalah ajaran tertinggi daripada wali songo itu sendiri..kalo emang ada apakah ada yg bisa menunjukkan dimana kuburannya..

    • Anonymous
      4 Oktober 2010 pukul 13:25

      beliau sengaja merahasiakan jasadnya agar tidak di ziarahi sebagai tempat syirik

  20. tantan
    23 Agustus 2010 pukul 01:22

    baik simbol ataupun benar adanya yang penting kita terapkan ajarannya dan tak perlu mencari kuburanya, yah mas huda

  21. Darno wiranata kusuma wijaya
    26 Agustus 2010 pukul 19:42

    Terimakasih kang atas penjelasane. Jawa jumenenge ingwahyu.

  22. Darno wiranata kusuma wijaya
    26 Agustus 2010 pukul 20:02

    Terus kembangkan pelajaran syekh siti jenar. Bersihkan nama siti jenar. wali jawa cuma ada dua. siti jenar dan kuwu sangkan. Kenapa sejarah siti jenar di tolak belakangkan dipitnah kenapa apa salah siti jenar?

  23. hendra mahmud
    30 Agustus 2010 pukul 15:55

    banyak yang telah mengerti rukun islam dan hakekatnya,tapi mengapa tidak mau mencari tau hakekat islam itu sendiri .dan inilah maksud dari pada peleburan-peleburan para arifbillah.

  24. 10 September 2010 pukul 11:49

    Minal aidin walpaidin.buwat sadulurku.
    ”Sebetulnya umat muslim tau hakekat rukun islam itu. Tetapi untuk membawa/dikaji atau mengerjakannya kayanya. Umat islam masih ada perasaan malas untuk dikerjakan. Ngomong atau kompelen bahkan debat gampang. Kata orang jawa ngomong gapang kerja susah.jikalau kalian semuah sudah mengerti kenapa tak mengerjakanya!

  25. djonet
    15 September 2010 pukul 10:19

    Islam-Iman-Ikhsan harus dijalamkan bersamaan (tidak satu persatu) agar tidak samar dan terang benderang tidak ada yg tersembunyi(semua rahasia terbuka bagi yg sudah waktunya), dengan rasa terima kasih dihati yg paling dalam kami sampaikan kepada Guru yg berkenan mengajarkan rahasia hidup dan mati ini kepada saya pribadi

  26. ardi
    20 September 2010 pukul 11:50

    … cara memahami sesuatu hal tiap2 orang tidak sama apalagi dari sudut pandang yang berbeda,(ada 100 manusia = 100 pikiran,100 kemauan, 100 pendapat, 100 keinginan, 100 tujuan, 100 perbedaan, dll ),, tapi inti dan tujuanya sama ingin bahagia dunia dan akhirat,.. dak perlu dicari yang mana yg salah,,, yang salah adalah yang tidak menjalankan perintah alloh dan menjauhi larangaNYA,,,,,,!..

  27. arsa
    2 Oktober 2010 pukul 22:31

    ada yang lebih bagus lagi ga! tulisannya!

    ini hidayah dari allah! tanpa hidayahnya kita ga tau apa!

  28. lilik s
    3 Oktober 2010 pukul 02:02

    Salam sejahtera,
    Dimana dan kepada siapa saya bisa mempelajari ajaran Syech Siti Jenar tersebut

  29. 7 Oktober 2010 pukul 12:36

    justru orang awam lebih mudah memahaminya…………yang sulit memahami suatu ajaran yang biasanya sih orang-orang yang merasa memiliki (berilmu.)………alias suka ngeyel karena …………………ngeyel …seperti mereka yang terlibat dalam khazanah hukum…………
    kalo mau lihat itu-itu orang yang berilmu sudah tau itu….diganti ini…hehheheheheh

  30. ARJUNA
    7 Oktober 2010 pukul 12:59

    sirolah dzatollah sifatullah ujudku allah, allah ngisor muhammad nduwur ingsun tengah yo ingsun waliollah diasihiono kang nggowo nggawe wujudku lan wujud panjenengan wiwit ono ndonyo tumekan akhirat.

    itulah salam syekh siti jenar

  31. ARJUNA
    7 Oktober 2010 pukul 13:10

    ajaran syekh siti jenar sebenarnya sangat mudah dipahami, asalkan ada yang membibing, sehingga tidak salah arah. dan ajarannya sangatlah nyata yang bisa diterapkan dikehidupan kita sehari-hari.

  32. Wong Djawa Indonesia
    22 Oktober 2010 pukul 04:32

    Cocok,matuk,nyebrang beneran ,ajaran yang bukan iming-iming.Wah kalau tahu hakikat haji yang sebenarnya,duwitnya tidak akan dibawa piknik ke Arab.Tapi dibagikan tetangga yang kekurangan,juga saudara-saudaranya.Sekarang ini yang mau haji tidak pamitan sama tetangga.Malahan tetangganya yang miskin nengoknya urunan(iuran)untuk bawa gula teh.Wong kadang belum nempur/beli beras, eee e malah nyumbang wong sugih yang mau piknik ke Mekah.Yang pulangnya dapat titel H.Kenapa titelnya nggak dikompitin S S P Z H (Sahadat Sholat Puasa Zakat Haji).Para wali ogah depannya diberi titel H.Wagu.Contohnya : Haji Sunan Kalijaga , gimana ? (Wagu !).

    Bener banget tuh mas ;)

  33. Wong Djawa Indonesia
    22 Oktober 2010 pukul 04:45

    Terima kasih Mas Sableng.(SISABLENG) nyuguhi bacaan / wejangan yang enak. Halus lembut tinggi luas dan dalam. Ya lebih nyebrang lagi. Karena suguhannya,bukan untuk anak TK yang masih mau di iming-iming.

  34. angga
    9 November 2010 pukul 21:26

    assllamualaikum saya tolong di ajari aji bolo sewu terimah kasih

  35. David satria
    18 November 2010 pukul 19:40

    Saya sangat kagum syeh siti jenar,walopun di tentang para wali,
    sebenarnya islam itu indah sekali,adem,tentrem,gak usah di buat sulit.

  36. bregud
    13 Januari 2011 pukul 09:05

    Siapa yg bisa jamin kebenaran ajaran S.S.Jenar ? Jangankan ajarannya,wong orang dan asal usulnya saja ga jelas.Bkn cuma S.S.Jenar, historis para walipun ga jelas. Bayangkan,ratusan pedati ( gerobak ) dokumen sejarah tempo dulu dibawa kabur ke negei Blanda, sampe 2 para pakar sejarah harus blajar sejarah kesana. Bukan tidak mungkin,dokumen tsb sudah di otak atik Blanda keparat itu.Contoh : Pangeran Bagus Serit,adalah salah satu patriot bangsa yang menentang Blanda,tapi dalam ceritra rakyat ( babad ), beliau dilukiskan sebagai figur raksaksa—-> yang tentunya membuat image rakyat sangat anti beliau.
    Buku S.S.Jenar, dikarang oleh R.Panji Notoroto abad k2 20, kemudian dipublikasikan oleh Ki Padmo ( muridnya R.Panji.N. ).

    • 16 Januari 2011 pukul 16:56

      Tak ada yang bisa menjamin akan sebuah kebenaran, karna kebenaran itu sendiri Relatif.
      Benar kata si A belum tentu benar kata si B.
      Lagi pula untuk apa bicara tentang kebenaran? bila yang ada didunia ini hanya sebuah kebohongan?

      “Bila Kebenaran telah terungkap, takkan pernah lagi ada kata yang terucap”

  37. satria_mundinglaya@yahoo.com
    27 Januari 2011 pukul 12:47

    Bagi yang ingin memahami ajaran Syech Siti Jenar,berangkatlah dengan tekad,ucap dan perbuatan yang lurus disertai ikhlas,,kebenarannya hanya dapat diketahui,diyakini serta dirasakan melalui akal budhi lestari..dan bagi yang menentangnyapun itu mutlak hak azasi setiap orang sebab Allah pun tak pernah memaksa kepada mahluk ciptaan Nya.

  38. satria_mundinglaya@yahoo.com
    27 Januari 2011 pukul 12:56

    Syech Siti Jenar tidak mengajarkan bahwa diri kita adalah Allah akan tetapi mengajarkan bahwa sifat-sifat Allah hendaknya menjadi ethos gerak manusia dalam setiap langkah kehidupannya agar hidup yang sebenar-benarnya hidup menurut perintah Allah serta Sunnah Rosul.
    Kebenaran tetaplah kebenaran,hati yang bersih akan mampu mengetahui kebenaran sejati karena disana tak pernah ada kebohongan..!!!!
    Jika pemahamanku salah, itu mutlak karena kebodohanku sebagai hamba,namun jika benar maka itulah kebenaran milik Allah.

  39. Raden Tresnadijaya
    21 Maret 2011 pukul 19:57

    Coba tanya jiwa kita. dimana Tuhanmu? Kita menjauh dari Tuhan nur akan semakin jauh semakin meredup dan lama kelamaan dengan berjalannya waktu akan hilang.
    Ingat : Tuhan bisa ada dalam jiwa kita, hadir dalam diri dan jiwa kita. Coba sedikit demi sedikit kaji diri kita. Hadirkan Tuhan dalam jiwa kita seluruh aliran darah, setiap detik tarikan nafas kita, semakin lama Tuhan akan hadir dalam jiwa kita. Niscaya kamu akan merasa bahagia, dan hanya itulah kebahagiaan yang paling sempurna. Tatkala kita merasakan Tuhan ada dalam diri dan jiwa kita, semua kebaikan akan hadir. Tatkala Tuhan menyatu dalam Jiwa kita “Itulah Nur Allah” yang sesungguhnya.
    Kita – “Allah”Maha Besar dalam 1 titik. “Lafad Allah” “Tazdid kecil” cermin dari Allah. Lihat diri kita “Allah dalam Jiwa kita” Cari Allah jangan cari kemana mana”.
    Dari sudut pandang ini hidup kita akan damai sejahtera “Rahmatan Lil Alamien”.
    “Mulailah Melangkah……….!!!!
    Mulailah dari detik ini Ikhlaskanlah….!!!!atas semua kebahagiaan dunia yang selama ini di kejar2. Berbuatlah semmmuuua kebaikan dari semmmmua yang di peroleh.
    Termasuk jiwa, kasihi dirimu sebagaimana kamu mengasihi Tuhan,…….
    Kasihi Tuhan sebagaimana kamu mengasihi diri dengan sepenuh jiwa dan kebersihan jiwa.
    Kasihi Orang dan semua makhluk ciptaanmu sebagaimana kamu mengasihi Tuhan mu dan dan Dirimu.

    Raden Herisyadi Tresnadijaya
    Ngahiyang – Padumukan: Panjalu, Ciamis Jabar (Ing Bumi Allah Alam Sakabeh)

  40. Syekh Lemah Teles
    27 Maret 2011 pukul 13:28

    Jika ingin mencari Gusti Allah,dengan cara menggunakan badan Allah.

  41. 12 April 2011 pukul 23:31

    Ibarat buah Islam itu utuh artinya ada kulitnya dan ada isinya.Kulit itu syari’at dan buah itu hakikat.Semua orang pasti ingin keduanya karena kalau dimakan pasti enak dan menyehatkan tidak menjadi racun karena terkontaminasi.Oleh karena itu jangan dipisah-pisahkan seperti yang sampean munculkan tanpa penjelasan yang total,sebab itu akan banyak menyesatkan orang.Nabi Muhammad saw. sendiri masih melaksanakan shalat sebagai syariat tetapi tidak meninggalkan hakikatnya shalat yaitu selalu ingat kepada Dzat yang serba Maha, maka yang terjadi adalah semua perbuatan beliau senantiasa ditujukan untuk mencari ridoNya.matanya tidak akan melihat kecuali terhadap hal-hal yg diridoiNya begitu pula dengan indra-indra yang lainya.Maka Nabi saw. bersabda barang siapa yang shalat tapi masih tetap berbuat kejahatan dan kerusakan maka sejatinya dia belum shalat.Nah… skrg terserah sampean mau makan kulitnya saja atau mau makan buahnya saja gak mau kulitnya sooo pasti dijamin kotor dan menjijikan,dan kalau sampean ambil kulit dan buahnya komplit pasti awan-awan karo nyruput es dirasakno pasti nyamleng.iyo gak…sakmene wae nyuwun ngapuro

    • 14 April 2011 pukul 07:42

      perumpamaane keknya kurang deh mas, mosok kulit ma isi? nak ngono yo jelas milih isi, mosok makan buah mbek kulitte? pasti dikupas kulitte dan dinikmati isine, iye tho?
      Klo kata Simbahku (hiks, kek sinetron aja :D )
      Jadilah kamu seperti Muhammad, jangan hanya melulu mengikuti Muhammad. :)

  42. 1 Juli 2011 pukul 19:43

    ada 2 macam pendakian yang berbeda, ada yang melalui syariat hakekat tarekat makrifat, ada juga yang lewat ihsan iman islam. monggo, yang enak saja yang mana hendak dilalui. apakah mengikuti metode “melalui ciptaaNYA engkau mengenalNYA” ataukah dengan metode “denganNYA engkau mengenal ciptaanNYA”.

    mari kita menjadi muhammad… bukan sekedar mengikuti muhammad… atau seperti muhammad… jadilah muhammad.. bukan jadi nabi muhammad.

  43. ahmad
    25 Juli 2011 pukul 20:37

    Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu

  44. Muqtadir Billah
    21 Agustus 2011 pukul 21:23

    Bisakah kita peroleh cara memahami dan mempraktekkan secara nyata ? adakah ‘petunjuk atau arahan’ yang simple dan mudah dipahami serta dilakoni oleh kita semua yang belum ‘ngeh’ benar tetapi sabgat serius untuk menemukannya, agar tidak tersesat dalam rimba tasawuf yang kadang memang menyesatkan, (setidaknya ada fenomena yang terjadi disekeliling kita ketika orang belajar/berguru tasawuf). Siapa yang bisa beri info dan komentar ? matur nuwun

  45. nkchai
    26 Agustus 2011 pukul 14:10

    salam. mohon copy paste. ye.

  46. moch.yusuf
    1 September 2011 pukul 23:45

    Saat ini saya emang lagi diberi hidayah Rabbku pd seseorang yg sudah dibait/dianggap murid ama syeck siti jenar(karna beliau waktu kholwat n poso ngeblong 3 hari 3 malam didatangin orang gede dan membawa parang dan yg akhirnya dipenggal kepala beliau tp itu terjadi dlm keghoiban seteleh kepalanya lepas dia tersadar ) ya alhamdulilah ternyata tabir uda terbuka didalam kebinggunganku akan ajaran ini yg dijelaskan oleh guruku ,anda menjelaskan amat gamblang n mudah dimengerti,tak mudah seperti melahap membacanya dikala prakteknya dilapangan,kenapa g semua orang bisa terpilih ,karna hanya orang2 yg terpilih dan punya wada(tempat)aja yg mampu melakukan ajaran ini terimakasih mbah atas hidayah ini semoga Allah memberi keselamatan dunia dan akherat pd anda n keluarg

  47. Gi An Li
    9 September 2011 pukul 15:56

    Ashadualla illa ha illalloh waashaduana kobiron Allohuakbar

  48. Anonymous
    19 September 2011 pukul 21:08

    sungguh sahsyat, meski aku belum bisa menemukan tetspi spirit dan pikiranku sudah ada disana, tinggal lakunya saja, mohon doanya

  49. evadiana
    28 September 2011 pukul 13:40

    Syekh siti jenar memandang persamaan tnpa adanya perbedaan dlm menjalani peranan masing2 insan

  50. Anonymous
    2 November 2011 pukul 20:52

    Alhamdulillahirobbilalamin. Setiap menuju jalan ALLOH pasti kita akan di Uji. dua kalimah syahadah yang hakikat, tidak bisa didapatkan dengan banyaknya uang. Semua bisa ketemu, dengan benar” menghantarkan keyakinan diri kita kepada ALLOH, mengahntarkan keyakinan diri kepada diri kita pribadi. Dal kumpulnya rasa . Mim adalah kunci nya.
    Semuanya tidak jauh dan tidak dekat. Tidak jauh satu siku dan tidak renggang satu engkal. Bahwasanya kita harus mencari hakikat sajatinya mukmin..??? Asyhadu nya diri kita, ILALLOH dan ILAHA nya…sampai menjadi tunggalnya diri kita. TUNGGAL ALLOH TUNGGAL DICIPTAKAN ALLOH.

  51. chapoenk.as
    17 Desember 2011 pukul 19:44

    aku berlindung kepada AKU dari godaan aku yang terkutuk

  52. 22 Desember 2011 pukul 00:21

    alhamdulilah…….

  53. 22 Desember 2011 pukul 00:26

    aku pernah dengar bahwa dlm hurup hijaiyah ada tiga hurup yang d sembunyikan
    aku hanya tau satu yaitu alif
    alif adalah hati,muhamad adalah aturannya
    klo tau
    bisa di jelas kan ga yang dua lagi…..

    • Anonymous
      1 Januari 2012 pukul 22:44

      lam kaf

    • 14 September 2012 pukul 19:45

      sin,ba. pada dasarnya huruf hijaiyah ada artinya…

  54. 12 Januari 2012 pukul 21:13

    mas…minta ijin untuk di print…..

  55. dewi supraba99@yahoo.co.id
    27 Januari 2012 pukul 20:30

    lihatlah DIA dengan mata DIA bukan dengan mata yang nyantel, rasakah kehadiran DIA dengan rasa DIA, seringlah bercinta dengan DIA dengan DIA, nuwun.

  56. untung raharja
    1 Februari 2012 pukul 09:30

    alhamdulillah, dapat untuk mengaca diri…ternyata masih sangat rendahnya diri ini. Moga Alloh memberi petunjuk kepada semua hamba-Nya yang berusaha mengenali-Nya. mungkin selama ini hanya ritual belaka…tanpa roh kesadaran…Ya Alloh, ampunkanlah dosa hambamu yang penuh dosa ini…

  57. Anonymous
    11 Februari 2012 pukul 00:20

    assalamualaikum . . semuanya . . senang berjumpa kalian semua.

  58. Unan ancen okry
    16 Maret 2012 pukul 14:56

    bukalah diri dan msuk dlm ruang kearifan
    ‘Hamayu hayuning bawana’

  59. ARek Wonokromo
    17 Maret 2012 pukul 18:50

    Alhamdulillah saya melihat saudara semua berniat untuk belajar kenal diri dan fitrah diri, niat yang tulus untuk mencari jati diri sebagai insan kamil sudah menunjukan bahwasannya saudara sangat baik. Belajar ilmu ini tidak mudah, kalo belum mampu anda akan kehilangan diri bahkan akan menerima cacian dan makian sesat.
    Saya katakan kalo tidak punya wadah atau tatakan jangan langsung mengambil ilmu syiekh siti jenar, balajarlah mengetahui letak salah dan banyaknya berdzikir itiqfar sebab hijab akan terbukan kalo kita selalu bertaubat akan kekilafaan kita di jaman jahiliyah. Maa’rifatullah bahwasannya butuh waktu butuh tenaga dan yang terpenting butuh kesiapan dzahir dan daim. Karena untuk mencari seorang mursyid tdk mudah karena sang mursyid akan memijasahkan sebuah dzikir daim dan shalat daim agar si murid atau anak ini menjadi mantap akan melangkahkan hidup totalitasnya terhadap Gusti Allah sesuai penyaksian syahadat awal kita terhadap Allah pengatasnamaan penyaksian diri akan jati diri,

    maaf bila ada salah ucap sebab lidah dan hati ini tergerak karena Allah dalam jati diri seorang yang awam dalam angan batin, fana sirna dan mati dalam kematian dan keheningan hidup dengan menciptakan diri sejati menjadi insan kamil.

  60. 7 April 2012 pukul 21:29

    terimakasih atas fasilitas ilmu yang diberikan oleh blog ini…

  61. Ama Abuy
    1 Mei 2012 pukul 10:18

    ass
    salam taaruf. dg sahabat2 yg satu jalan tauhid.
    saya dari cianjur juga mmpunyai guru bernma Alm syekh Dasep.. yg tingkatan tauhid nya menyamai syekh abdul qodir mnurut teman2 syekh d kalangan ghoib. katanya d indonesia ada 2 org yg tingktan tauhidnya menyamai syekhuna sulton Auliya abdul qodir al Jaelani. di cianjur dan banten. yg d banten afwan saya kurang tau namanya. yg d cianjur ialah beliau.
    bisa di tanyakan ke kalangan ghoib siapakan guru sya ini n bgaimna jejak jalannya..

    dunia ialah bangkai…

  62. Anonymous
    14 Mei 2012 pukul 23:26

    lbh tinggi ilmu datuk sanggul muning.

  63. nono putra dayanto
    14 November 2012 pukul 11:37

    alhamdulillah… Semoga bermanfaat dlm kehidupan ini.

  64. 12 Februari 2013 pukul 16:36

    semoga orang” islam mampu mendalami & memahami ilmu hakekat……setelah syari’at’y di jalan kan….

  65. 3 Juni 2013 pukul 14:04

    We are a group of volunteers and starting a new scheme in
    our community. Your website offered us with valuable info to work
    on. You’ve done a formidable job and our whole community will be thankful to you.

  66. tak dkenal
    10 Juni 2014 pukul 16:15

    karna diri inilah yg menyelamatkan kita diakhirat yg memberi syafaat untuk diri ini

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: