Beranda > Aku Sejati, Belajar Pada GURU SEJATI, suluk walang sungsang > Mencari Kiblat di Negeri Arsy {suluk}

Mencari Kiblat di Negeri Arsy {suluk}


Raden Walangsungsang tertegun seakan tak percaya akan mimpi yang baru ia alami, ia yakin kalau ini bukan sekedar mimpi, ini adalah ilham, tapi siapakah Muhammad seseorang yang hadir dimimpinya yang mengaku utusan Tuhan, agama apapula Islam yang Muhammad ujarkan sebagai agama penyempurna dari segala agama.

Seribu Tanya Menyeruak dalam Semak 1)

Tak pernah selain Muhammad,
Nurnya cahaya semesta
Ku kira Betara
Atau ini hanya morgana.

Gusti yang widi
Penguasa Muhammad yang diridhoi
Kalaulah Islam hakiki
Jadikanlah aku abdi.

Kemana harus kucari kebenaran sejati?

Prabu Siliwangi melihat kemurungan putranya ia pun bertanya kepada Walangsungsang.
“ Puteraku, apa yang membuat kau gundah “
“ Ampun seribu ampun Rama Prabu, Ananda bermimpi berjumpa dengan Kanjeng Muhammad yang mengaku utusan Yang Widi, ia mengajarkan tentang agama Islam kepada hamba, dan saat hamba terbangun hamba hanya mendapati hamba sendirian didalam peraduan, hamba kangen dengan ajaran beliau, Rama Prabu ! “
“ Puteraku Walangsungsang calon pewaris padjajaran, agama kita dari dulu sampai sekarang adalah Hindu agama para Sanghyang, engkau adalah keturunan Pandawa, tak baik merubah paham, junjunganmu adalah Sanghyang Nur Cahya bukan Muhammad, lupakanlah saja mimpimu, mungkin itu hanyalah bunga tidur “
“ tapi rama sudah teramat berat rindu ini untuk mencari ajaran Islam, Ananda rasa ananda perlu turun gunung untuk mencari kebenaran yang hamba yakini”
“ Walangsungsang kau telah membantah perintahku, kalau kau bersikukuh dengan pendirianmu pergilah, dan janganlah menganggap aku sebagai Ramandamu lagi”

Walangsungsang dengan segala tekad akhirnya memutuskan untuk mencari agama Islam.
Tangis membahana dipenjuru Istana, mengantarkan kepergian pangeran tercinta.Tak kuasa airmata perpisahan mengalir membasahi seraut wajah penuh cinta antara adik (Rara Santang) dan kakak (Walangsungsang) sirna sudah putera Mahkota mengejar keinginan hatinya.

Mencari Jati Diri 2)

Bayang-banyang cadar kemolekan
Membawa diri tertuju garis persimpangan
Rindu adalah asal dari cinta
Maka inilah asmara

Kepergian moga laksana isra
Dari satu sungai menuju samudra
Atau dari pulau ke benua
Tekad adalah baja

Bila hanya diam membisu
Lalu hidup tak ada tuju
Maka semua kan berlalu
beku tetap sembilu

Biar ku tinggalkan istana…

Raden Walangsungsang pergi mengikuti arah matahari terbit, dan sampailah ia di kaki gunung Marapi, disana ia bertemu dengan seorang Resi.

Bertanyalah resi tersebut : “ Wahai anakku, siapa namamu, sepertinya engkau bukanlah dari golongan biasa, siapa engkau dan apa yang engkau cari ?
“ Pertapa yang agung nama saya Walangsungsang putera prabu Siliwangi, saya sedang mencari Agama Islam, Wahai Resi pinandita dimana agama itu dapat kutemui “
Tersenyum Resi tersebut “ Walangsungsang anakku, engkau mencari Islam, tapi saat ini engkau belum bisa mendapatinya, tapi pasti kau bisa menjumpainya, ikutlah dulu ketempat bapak, disanalah Jodohmu berada.”

Maka ikutlah walangsung ke kediaman Resi Danuarsih kemudian dijodohkan dengan puterinya Nyai Mas Endang ayu.

Adab Berkhalwat 3)

Di gunung Marapi terhenti kaki
Memusatkan ruh indrawi pada satu Dzati
Terdiam membisu dalam hening malam
Menyatu pikiran dalam bayangan wajah Tuhan

Kemewahan dunia akan Morgana
bila kita melihat Djalal-Nya
Hanya satu Dzat yang hakiki
saat cinta-Nya menyapa diri

Naps ini moga bukan api
Pabila api ambilah hanya pelita
pelita akan tetap membara
Inilah yang dimaksud Mutmainah

Gunung Marapi
Menjadi paku bumi
Dan aku terpaku
Di dalam samadi

Diamnya naps adalah Ibadah
Semoga dapat Iradah

Di Istana kerajaan geger karena puteri Rara Santang pergi dari Istana, seluruh
punggawa serta hulubalang dikerahkan untuk mencarinya, tapi tak seorangpun dapat
menemukannya.

Rarasantang pergi mencari Kakaknya sampailah ia ke gunung Tangkuban-perahu, ia
merasakan keletihan yang sangat dan akhirnya iapun beristirahat dibawah pohon.

Kerinduan dalam pencarian 4)

Terseok-seok perjalanan
Berkelok-kelok lekuk kehidupan
Meraja di penjuru pencarian
Tak jua dapat ditemukan

Ke gunung aku bingung
Di laut tambah kalut
Ke hutan banyak setan
Letihku dalam pendakian

Tapi tak akan berpaling
Dari tujuan yang terpenting
Tentulah ada jalan
Untuk dapatkan pencerahan.

Dimanakah ada dalam tiada?

Ketika sedang Istirahat datanglah seorang nenek bertanyalah nenek tersebut, “Geulis,
Sedang apa engkau sendirian dan kenapa engkau menangis?”
“ Ibu saya adalah Rarasantang, saya sedang mencari kakak saya Walangsungsang.
Sudah beberapa hari saya mencari tapi saya tak saya temukan, apakah Ibu
mengetahuinya?”

Nyai Anjar saketi merasa iba melihat keadaan Rara Santang “ Anakku Kakakmu saat
ini ada digunung Marapi, ia sekarang telah menikah, susul segera Kakandamu,
pakailah selendang ini dalam perjalananmu” Nyai Anjar Saketi menyerahkan
Selendang yang ia bawa. “Terima Kasih Ibu telah menolong saya”.

Setelah selendang itu dipakai oleh Rara Santang badannyapun melesat menjadi
cahaya dan dalam hitungan detik ia sudah sampai di Gunung Marapi tempat
Walangsungsang tinggal.

Sesampainya di gunung Maraapi, Rara santang bertemu dengan walangsungsang,
mereka tak kuasa menahan kerinduan, tangisan dan pelukanpun bersambut, rasa haru
mulai merasuk, Endang Ayu istrinya Walangsungsang kaget melihat Suaminya tengah
berpelukan dengan seorang wanita. Bertanyalah Ia : “Kanda, siapakah yang kau
peluk itu?”Istriku kenalkan ia adalah Rara Santang adik kandung kanda. Ia kesini
menyusul kanda, dia sangat rindu dengan Kanda seperti juga rindunya kanda
dengannya. Rarasantang dan Walangsungsangpun akhirnya dapat bertemu.,

Sudah beberapa bulan mereka tinggal di Gunung Marapi, walaupun ketenangan sudah
Walangsungsang dapatkan, tapi bayangan tentang islam selalu memanggilnya, iapun
sadar bahwa ketenangan belumlah pantas ia raih, ia harus mengejar keinginannya,

Maka setelah berunding dengan Istrinya ia pun memutuskan untuk meninggalkan
gunung marapi , tapi bagaimana dengan istri dan adiknya, apakah akan ikut serta,?
Sedangkankan perjalannya nanti sudah tentulah penuh dengan marabahaya. Maka
Walangsungsang pun menghadap Resi Danuarsih. “Ramanda Resi, hamba merasa sudah
saatnya hamba turun gunung untuk kembali kepada tujuan hamba semula, bukannya
hamba tidak nyaman tinggal di sini, tapi pengorbanan ini rasanya sia-sia belaka
kalau sampai tak sampai tujuannya, maka dari itu Ananda menghadap Ramanda Resi
untuk memohon wejangan.”
“Puteraku Walangsungsang, Ramanda tahu ke susahanmu, terimalah cincin atau Ali
Ampal ini dan masukkanlah Istri dan Adikmu kedalam cincin ini”. Ujar sang Resi
sambil menyerahkan cincin tersebut.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: