Beranda > Cerita pendek > Orang-Orang Gila di Kampung Itu

Orang-Orang Gila di Kampung Itu


Penulis : Setta SS

Akhir-akhir ini, kampung kecil di pinggiran sebuah kota kecamatan yang jauh dari pusat kota itu semakin sering didatangi oleh orang-orang gila. Sudah ada dua orang gila yang masuk ke kampung itu dalam dua minggu terakhir ini. Keduanya laki-laki. Berusia enam puluhan tahun. Dan bertubuh kerempeng.

Yang membuat para penduduk kampung Cicanggah, nama kampung itu, heran adalah penampilan mereka yang mengenakan kain sarung, baju koko, celana pangsi hitam, dan kopiah putih; yang sering dipakai oleh mereka yang baru pulang dari Tanah Suci. Meski sudah tampak kotor dan sepertinya sudah lebih dari sebulan tak dicuci. Dan memang, selama beberapa hari mereka singgah di kampung Cicanggah, orang-orang gila itu selalu hadir di mushala untuk ikut shalat berjama’ah.

Khusus masalah pakaian mereka yang terlihat lebih rapi dari orang gila kebanyakan, para penduduk kampung banyak yang berkomentar dengan nada miring.

“Masih mending, pakaiannya sopan. Coba kalau tidak pakai pakaian sama sekali seperti orang-orang gila yang sering berkeliaran di pinggir-pinggir jalan. Hii…, ngeri aku melihatnya!” celetuk seorang ibu muda yang hanya mengenakan kutang dan kain samping sekenanya. Ia sedang menyusui bayinya.

“Kalau bagiku sih bodo amat. Mau pakai pakaian model apa pun juga nggak masalah. Yang penting dia tidak mengganggu ketertiban dan kedamaian kampung kita. Payah kan kalau ternyata dia sebenarnya orang waras yang sedang mengawasi kampung kita dan ada orang ‘cerdas’ di belakangnya? Anak buah kelompok teroris, misalnya,” seorang penduduk yang tampak mengikuti info tentang terorisme yang akhir-akhir ini kembali digembar-gemborkan di televisi urun suara. Yang lain tampak mengangguk-anggukan kepala, seolah berkata, “Benar juga ya?” Was-was.

“Aku milih si Jamali saja,” sebuah suara serak terdengar dari arah belakang kerumunan mereka di pos ronda itu. “Ia tidak pernah membuat onar di kampung kita. Dan, hehe.., dia juga baik sekali. Masih ingat kan saat aku tanya nomor buntut padanya? Tidak sia-sia aku pasangi dengan uang sepuluh ribu yang tadinya untuk bayar SPP si Toto. Jebol, deh!” lanjutnya lagi tidak nyambung.

Lelaki 43 tahun itu terkekeh, memamerkan gigi kuningnya diselingi seringai tajam matanya yang misterius. Tapi sayang, si Jamali, orang gila yang doyan nyerocos ngalor-ngidul dan menjadi rebutan orang-orang kampung yang menanyakan nomor togel yang akan keluar itu sudah tidak pernah mampir lagi ke kampung Cicanggah sejak lama.

Namun kedatangan orang-orang gila ini memang patut mereka curigai. Orang gila pertama, mengawali kedatangannya di kampung Cicanggah dengan aksi yang nyeleneh.

Saat itu, pertengahan musim kemarau, sawah-sawah kerontang, tanaman padi tak tumbuh, matahari bertengger garang di tepi langit setiap hari, dan para petani terpaksa mengganti batang-batang padi yang sudah bertumbangan itu dengan biji kedelai hitam sebagai alternatif lain.

Sore itu, suasana tenang kampung terusik oleh kedatangannya. Ia muncul tiba-tiba. Tak ada seorang pun warga kampung yang mendapat firasat akan kedatangannya sebelumnya. Sudah ada di tengah ladang kedelai seorang penduduk kampung, mengeruk jerami kering yang menutupi tunas-tunas kedelai yang baru tumbuh tak lebih dari lima senti, menumpuknya menjadi gunungan jerami di tengah ladang, seolah hendak membumihanguskannya dalam sekejap mata.

Sang pemilik ladang panik bak orang kesetanan ketika mendapat kabar dari anaknya yang sedang asyik bermain layangan di lapangan. Ia berlari menuju ladangnya dengan golok besar mengkilat terhunus di tangan kanannya. Menemui orang gila yang tampak akan berbuat onar itu.

Orang gila itu bergeming. Ia terus mengeruk jerami kering dan menumpuknya di tengah ladang. Tidak terpengaruh teriakan pemilik ladang yang nyaris kehabisan suara dan kata-kata.

Tak peduli tatapan warga kampung yang berkerumun dan menatap heran padanya. Yang tak lelah berbisik-bisik tentang dirinya. Siapa namanya? Dari mana asalnya? Di mana rumahnya? Mengapa dia gila? Sejak kapan dia gila? Apakah ia termasuk di antara orang-orang gila yang dibuang secara liar dari kota besar sana? Tanya seorang penduduk yang pernah melihat langsung orang-orang berotak ‘miring’ itu diturunkan dari sebuah truk yang mengangkutnya dari kota di sebuah pinggiran hutan yang sepi, retoris. Ada juga yang bersuara dengan nada geram, “Kok tega sekali ya anak-anaknya menelantarkannya? Dasar anak durhaka!” Begitulah.

Lelaki ringkih dengan rambut yang setengahnya sudah memutih itu baru menghentikan aktivitasnya setelah pemilik ladang menghamburkan jerami kering yang hampir mencapai setinggi pusarnya itu ke tubuhnya. Menutupi tubuhnya. Dan ia ngeloyor pergi begitu saja. Seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Anehnya, saat waktu shalat Maghrib tiba, ia sudah duduk bersila di shaf pertama di satu-satunya mushala yang ada di kampung Cicanggah.

Beberapa kakek dan nenek yang suka shalat berjama’ah di mushala itu bertambah heran ketika mendengarkan wirid yang terlantun seusai shalat jama’ah dari bibirnya. Sama persis dengan apa yang mereka baca; istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, surat Al-Fatihah, ayat kursi, dan do’a-do’a yang juga mereka baca. Bahkan ada beberapa wirid yang dibacanya, yang tak mereka hafal sama sekali, tapi dihafal oleh orang gila itu.

“Benar-benar aneh orang gila yang satu ini,” bisik-bisik di antara mereka sebelum meninggalkan mushala dan pulang ke rumah masing-masing.

“Mungkin tadinya ia seorang kyai, tapi jadi gila,” seorang nenek yang berjalan di depan mencoba menengahi.

“Kyai gundulmu! Masa kyai bisa gila? Bagaimana orang yang bukan kyai? Pasti lebih gila lagi. Iya, kan?” seorang kakek malah menghardik argumen si nenek yang menutupi rambutnya yang sudah memutih semua dengan cindung biru itu, kasar.

“Ya sudah, aku tidak akan ngomong lagi tentang orang gila itu. Tidak ada gunanya membicarakan wong edan seperti itu!” balas si nenek lagi, sengit, tidak terima kata-kata itu.

Diskusi itu terhenti total. Mereka terus berjalan perlahan menjauhi mushala yang sudah gelap gulita. Tak mempedulikan lagi nasib wong edan yang mungkin sedang merenungi nasib sialnya di pelataran mushala itu. Karena pintu satu-satunya yang ada di mushala itu telah dikunci dengan sempurna.

***

Hanya tiga hari orang gila itu tinggal di kampung Cicanggah. Tapi warga kampung sudah tidak lagi peduli dengan kehadirannya. Karena ia tidak pernah lagi membuat ulah seperti waktu pertama kali ia datang ke kampung itu.

Kerjanya sehari-hari sudah tampak normal seperti orang gila pada umumnya. Kadang mencabuti rumput di depan mushala, tersenyum-senyum sendiri, dan berjalan-jalan mengitari kampung Cicanggah sambil memunguti puntung rokok di jalan-jalan yang ia lewati. Ada tak kurang dari dua puluhan puntung rokok yang ia bawa ke mushala.

Kemudian ia hisap sendiri dengan nikmat setelah meminjam korek api dari kakek-kakek yang suka membawa rokok bedod ke mushala itu. Tapi yang tampak masih aneh di mata warga kampung ialah kebiasaannya tinggal di mushala. Kenapa di mushala, ya? Tanya mereka yang tak pernah menginjakkan kakinya di mushala kecuali saat Hari Raya tiba untuk shalat Id. Setahun dua sekali.

Setelah tiga hari, sosoknya hilang seolah ditelan bumi. Sama seperti ketika ia memasuki kampung Cicanggah yang juga penuh misterius. Dan kampung itu kembali sunyi. Para penduduk sibuk berpikir tentang jalan keluar terbaik untuk menghadapi masa paceklik yang sedang melanda kampung mereka hampir tiga bulan terakhir ini. Lupa bahwa tiga hari ke belakang kampung mereka baru saja disinggahi orang gila.

***

base-camp.

Ia tiba di kampung Cicanggah saat para penduduk kampung sedang asyik ngerumpi di teras-teras rumah mereka yang hanya diplester semen. Ia datang dengan damai. Tidak seperti orang gila pertama yang sempat berbuat onar di ladang kedelai milik salah seorang penduduk. Bahkan ia sempat bercakap-cakap dengan warga kampung. Diskusi konyol tentu saja. “Lumayan, menghilangkan stress,” kata mereka. Ada juga yang memberinya rokok dan meminjaminya korek api. Ya, ia juga ternyata doyan mengisap nikotin seperti orang gila pertama.

Saat waktu Maghrib tiba, orang gila itu sudah duduk bersila di shaf pertama mushala. Ia tampak khusuk berdzikir menunggu kakek dan nenek yang biasa shalat Maghrib tiba. Lagi-lagi, jama’ah Maghrib yang hanya beberapa gelintir itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan wiridnya yang fasih seusai shalat.

“Sekarang orang gila kok aneh-aneh sekali, ya?” gumam seorang jama’ah, lirih.

“Masih mending orang gila masih ingat pada Tuhan. Zaman sekarang sudah banyak kok orang waras, sehat, yang sudah melupakanNya,” jawab jama’ah lain entah ditujukan kepada siapa.

***

Sebulan berselang setelah orang gila kedua pergi tanpa meninggalkan jejaknya, kampung Cicanggah lagi-lagi geger. Tapi kali ini bukan orang gila seperti sebelumnya yang menjadi penyebabnya. Namun justru salah seorang warga mereka yang dianggap gila.

Namanya Ani, perempuan, masih ABG, badannya bongsor, hanya sempat mengenyam SD sampai kelas empat. Ia dianggap stress oleh warga kampung setelah pulang dari Jakarta, menjadi babu.

Tiba-tiba ia sering terlihat tertawa cekikan sendiri di pos ronda. Berjalan ke sana-ke mari mengelilingi jalanan kampung sambil ngromyang tak karuan. Menjadi hiburan gratis anak-anak yang suka mengikutinya ke mana ia melangkahkan kaki. Sementara orangtuanya hanya mampu mengelus dada dan menangis tanpa air mata melihat tingkah anak perempuannya yang berubah drastis seperti itu.

Berbagai prasangka yang memerahkan telinga berloncatan seolah tak ada rem yang menahannya. Gosip murahan. Dan Ani pun menjadi bahan tertawaan sesama warga kampung yang menanggapnya.

“Si Ani gila pasti gara-gara diperkosa majikannya di Jakarta!”

“Pasti tidak dibayar gajinya!”

“Bukan. Ia di-PHK!”

“Salah besar. Ia pasti kena guna-guna cowok kota. Lihat, badannya kan termasuk seksi juga.”

“Yang benar, ia naksir anak majikannya. Tapi ditolak mentah-mentah!”

Masih banyak lagi komentar asbun lain yang mereka lontarkan. Tapi tidak ada yang tahu pasti apa sebenarnya penyebab Ani menjadi gila. Satu-satunya orang yang diharapkan bisa menjelaskan perkara ini hanya Toyimah, teman Ani yang mengajaknya bekerja sebagai babu di Jakarta lebih setengah tahun lalu.

Dari orangtua Ani, warga kampung tahu kalau Ani diantarkan pulang ke kampung Cicanggah oleh sopir pribadi majikannya. Namun sayangnya, sopir itu tidak bersedia menjelaskan mengapa Ani menjadi gila seperti itu.

Menjelang lebaran, barulah Toyimah pulang ke kampung Cicanggah untuk merayakan ‘Idul Fitri bersama kedua orangtua dan tiga adiknya yang masih kecil-kecil. Penampilannya masih tetap seperti dulu. Pakaian-pakaian sederhana yang suka dipakainya sebelum ia berangkat ke Jakarta bersama Ani. Ia tidak mengenakan kaos-kaos ketat dan jin belel murahan seperti yang selalu dipakai Ani sekarang.

Seusai shalat Tarawih berjama’ah di mushala, hampir semua warga kampung berkumpul di rumah setengah bata keluarga Toyimah. Karena sewaktu di masjid tadi, Toyimah hanya mengunci mulutnya menghadapi pertanyaan bertubi-tubi mereka yang sudah tak sabar ingin mengetahui mengapa Ani menjadi gila setelah tiba dari ibu kota.

Apalagi Toyimah sudah mendengar dari mulut ibunya sendiri bahwa stress-nya Ani sudah menjadi santapan rutin gosip sehari-hari di kampungnya itu. Tak bosan-bosannya mereka menggunjing tentang ABG malang itu. Ya, sesungguhnya ia tak tega dan tak ingin menjelaskannya pada mereka.

“Maaf Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sebenarnya saya juga tidak tahu pasti mengapa Ani jadi hilang ingatan seperti itu. Tapi…”

Hampir semua warga kampung menahan nafas. Beberapa tampak sudah tak sabar menunggu kelanjutan kata-kata Toyimah.

“Tapi majikan saya bilang, Ani kerjanya hanya duduk-duduk saja di teras rumah setiap hari. Menyaksikan gadis-gadis cantik berpakaian you can see my ketiak melenggang manis dengan handphone merk terbaru yang nyaris tak henti-henti berdering. Dan Ani lupa dengan tugas utamanya sebagai babu. Setelah itu, Ani juga jadi suka tersenyum-senyum dan berbicara sendiri.”

Tiga menit berlalu, kebekuan di ruang tengah rumah setengah bata keluarga Toyimah itu baru mencair. Selama itu, semua warga kampung yang ada hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepala mereka dalam bisu. Tidak tahu komentar apa yang seharusnya mereka lontarkan.

Satu persatu warga kampung undur diri dalam diam. Tapi entah apa yang sedang bergolak dalam batok kepala mereka saat itu.

***

Bogor-Yogyakarta, 26/11/2004-01/2005

Sumber: Kota santri

Kategori:Cerita pendek Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: