Beranda > Berkedok agama, Kaum BerAgama DiNegeri ini > Belajar Memaknai Agama

Belajar Memaknai Agama


AGAMA, demikianlah sebuah kata yang terdiri dari lima huruf. Mengutip dari Wikipedia, agama adalah berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “A” yang artinya tidak, dan “GAMA” yang berarti kacau. Sehingga secara entomologis, agama diartikan situasi yang tidak kacau. Sementara kata lain ada yang menyebut religi (bahasa Latin) yang berasal dari kata kerja “re-ligare” yang artinya “mengikat kembali”. Dimaksud dengan berreligi adalah seseorang akan senantiasa berusaha mengikat kembali atas dirinya kepada Tuhan YME.
Kalau bicara soal agama, tentu tidak akan lepas dengan Tuhan (Indonesia), God (Inggris), Brahman (India), Yahweh (Yahudi), Dei (Yunani), Gusti Allah/Kang Murbeng Dumadi, …….. (Jawa). Kemudian bagaimanakah memaknai suatu agama itu???. Agama manapun, apakah itu Islam, Nasrani, Hindu, Budha, Kong Hu Chu dan lain sebagainya, bahkan termasuk pula aliran kepercayaan/kejawen, pada hakekatnya mengajarkan suatu tuntunan hidup kedamaian dalam peradaban manusia dimuka bumi pertiwi ini, dengan tujuan agar manusia tetap berjalan dalam KEBAJIKAN dan KEBAIKAN terhadap sesama makhluk maupun alamnya. Tuntunan dan ajaran yang disampaikan oleh pembawa agama tentunya bermuara kepada amal KEBAJIKAN dan KEBAIKAN, namun karena adanya perbedaan sudut pandang dan visi pemahaman agama serta berbagai macam kepentingan kelompok, golongan dan faham yang membuat penganutnya menjadikan bertentangan, bahkan menganggap mereka yang tidak sehaluan, berseberangan, disebut “kafir” yang pantas harus dimusuhi, disirnakan dari muka bumi. Praktek seperti inilah sehingga esensi dari agama itu sendiri menjadi bias, kabur dan melupakan inti sarinya, karena disibukkan dengan berbagai usaha menonjolkan kebenaran kelompok/golongan tentang konsep pemahaman masing-masing guna menarik simpati sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan tujuan inti sari semula dari agama tersebut. Status klaim kebenaran diperebutkan, merasa dirinya dan kelompoknyalah yang paling benar, paling suci. Tidak disadari bahwa demikian ini sesungguhnya telah menjadi korban akibat “ketidak tepatan” dalam mengkonsumsi dan memahami arti dan makna sebuah AGAMA. Salah mengaplikasikan makna JIHAD dengan cara memberangus kelompok dan golongan lain yang tidak selebel, memusuhi orang-orang yang memiliki keyakinan lain. Hal seperti inilah secara tidak sadar menunjukkan bahwa sebenarnya masih belum beragama tetapi baru sekedar mengenal sebuah agama.

Agama manapun melarang kepada umatnya untuk tidak saling gontok-gontokan, tidak suka mengolok-olok terhadap yang lain, yang pada gilirannya malah akan menjerumuskan kita pada rasa kebencian dan permusuhan antara sesama makhluk ciptaanNYA. Hai, manusia kembalilah kejalan yang benar …… Kenalilah DIRI KITA SENDIRI dan jadilah diri sendiri, karena dengan menjadi diri sendiri niscaya kita akan mengenal DIRI KITA. Dengan mengenal diri, maka tidak mustahil kita akan mengenal TUHAN yang penuh kasih saying. Pada hakekatnya, sesungguhnya Tuhan sudah ada dalam DIRIKU, DIRIMU dan DIRI KITA, kalau dalam khazanah Jawa menyebutnya dengan Loro-loroning Atunggal,
Duh Gusti paringono ELING lan WASPODO ,

Tulisan ini diculik dari BlogNa SUKOLARAS

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: