Beranda > Memasak dan Mengurus Rumah itu kewajiban suami > Memasak dan Mengurus Rumah itu kewajiban suami

Memasak dan Mengurus Rumah itu kewajiban suami


Siapa bilang memasak dan mengurus rumah tangga itu kewajiban seorang istri? Itu adalah persepsi yang salah. Setidaknya, kalaupun itu betul, itu hanyalah tradisi orang Indonesia, yang menganggap bahwa kewajiban seorang Istri adalah “Dapur, Sumur, Kasur.” Mengapa? Karena dalam Islam menafkahi adalah kewajiban seorang suami, bukan istri! Tak ada satupun keterangan bahwa menafkahi itu adalah kewajiban seorang istri. Jadi, dari sini saja sudah ada yang harus diluruskan.

Nah, menafkahi itu apa?

Pertama, memberi tempat bernaung yang layak. Merangkap di dalamnya merawat rumah hingga tetap nyaman untuk ditempati. Jadi, kalau rumah berantakan, suamilah yang wajib membersihkan dan merapikannya. Kalau ada piring kotor dan sampah menumpuk, tugas suamilah untuk membersihkan dan menjaganya tetap bersih. Kenapa? Karena itu bagian dari menafkahi!

Kemudian, tugas selanjutnya adalah memberikan pakaian yang layak, termasuk di dalamnya merawat pakaian agar tetap layak pakai. Jadi, kalau pakaian istri sudah kotor, suamilah yang harus mencucinya. Kalau lusuh, ialah yang harus menyetrikanya. Kenapa? Karena itu bagian dari menafkahi!

Kemudian, tugas selanjutnya adalah memberikan makanan yang halal dan thayyib kepada istrinya. Itu artinya halal, enak, sehat dan bergizi. Termasuk di dalamnya belanja kebutuhan sehari-hari, lalu memasak dan menghidangkan makanan untuk istrinya. Kenapa? Karena itu bagian dari menafkahi!

Lalu, mengurus anak juga adalah tugas dari suami. Seorang ibu bahkan berhak untuk berhenti menyusui anaknya jika ia merasa berat dan kepayahan. Dan ayahnya hendaknya mencarikan seorang ibu susu untuk si bayi jika ingin menyempurnakan masa persusuannya.

Anda tidak percaya? Saya kutipkan satu ayat di surat Al Baqarah:233

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Yang maknanya, “… dan kewajiban ayahlah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf…”

Ini hanyalah satu contoh ayat yang menegaskan bahwa kewajiban suamilah semua tugas rumah tangga itu, meliputi di dalamnya membersihkan dan merawat rumah, memasak, mencuci, mengurus anak, dan yang semisalnya….

Lalu, apa dong tugas seorang istri?

Dalam rumah tangga, tugas istri sebetulnya hanya satu, dan itu sangat mudah: nurut sama suami!

Jadi, jika istri disuruh memasak, ia harus nurut!

Disuruh mencuci pakaian, ia harus nurut!

Disuruh membereskan rumah, ia harus nurut!

Disuruh mengurus anak, ia harus nurut!

Nah, Lho…?!

Mohon maaf sebelumnya. Ini memang sebuah guyonan, tapi esensinya adalah kebenaran. Di sinilah Islam mengajarkan prinsip keadilan serta keseimbangan. Mengangkat wanita pada derajat yang semestinya dan mendidik setiap suami untuk bertanggung jawab. Menikah bukanlah sekedar saling menuntut hak, tetapi juga berbagi kasih sayang.

Seorang suami yang sadar bahwa istrinya telah mengerjakan semua tugas dan tanggung jawabnya, akan menjadikan sang suami menghormati dan makin menyayangi istrinya itu. Siapa lagi yang lebih dermawan dari seorang istri yang mengerjakan tugas-tugas suaminya tanpa meminta bayaran sedikitpun? Padahal itu bukan tugasnya sama sekali, dan secara aturan ia berhak meminta bayaran atas pekerjaannya itu.

Pemahaman semacam itu akan menjadikan suami bersungguh-sungguh dalam bekerja serta menafkahi keluarganya, karena ia tahu bahwa di rumahnya seseorang yang berhati mulia telah menantinya dengan penuh kerinduan. Sungguh Allah akan meliputi mereka dengan barokah serta kasih sayang.

Dan seorang istri yang bersungguh-sungguh melaksanakan pekerjaan rumah tangganya dengan penuh keikhlasan, telah menjadi manusia paling mulia dengan mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan suaminya. Semuanya ia lakukan atas dasar cinta dan ketaatan, dan pemahaman bahwa dalam pernikahan semuanya adalah tentang berbagi dan tolong menolong. Setiap pekerjaan yang ia lakukan dengan ikhlas akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang berlipat-lipat ganda.

Inilah yang seharusnya senantiasa kita terapkan dalam kehidupan rumah tangga kita. Saling menghargai dan mengingatkan dalam kebaikan. Allah mengingatkan kita dengan firmannya di surat Al Baqarah:237,

وَلاَ تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Yang maknanya, “dan janganlah saling melupakan keutamaan di antara kalian! Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kalian kerjakan.”

Wallahu A’lam

  1. ag
    30 September 2011 pukul 02:59

    lma bg anda,baru bg sy………….tx

  2. LIsa
    4 Januari 2012 pukul 22:39

    Kalau suami tdk mau menafkahi bahkan menuntut istri menafkahi sampai seperti tukang palak bgmn itu? Pokoknya suami duduk manis, minta semua hak tanpa memberi kewajiban, suami spt ini harus dibagaimanakan?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: