Arsip

Posts Tagged ‘Lagi stress’

Semedhi / Meditasi Tidur

14 Februari 2010 17 komentar

Salah satu cara Nabi mendapatkan wahyu adalah saat dia tidur. Ada apa dengan tidur?

Ini adalah rahasia besar yang disimpan dan disembunyikan selama berabad-abad oleh kaum sufi, orang-orang sakti dan winasis, kaum mistikus agama apapun sepanjang masa. Rahasia tentang bagaimana mendapatkan pandangan ilham, pencerahan dan kebijaksanaan. Rahasia terbesar itu adalah semedi dengan cara yang nyaris sama dengan kalangan umum yaitu dalam posisi tidur. Enak, nyaman sekaligus mendapatkan pencerahan. Sudah dicontohkan oleh para nabi, utusan, avatar bagaimana melaksanakan berbagai posisi yang mampu mengantarkan para penganutnya untuk mendapatkan pencerahan. Mulai dari posisi duduk (ini yang paling banyak diketahui), posisi berdiri maupun posisi berjalan. Sedikit yang mengetahui namun tidak atau jarang diajarkan di forum-forum spiritualis adalah melaksanakan semedi dalam posisi tidur. Konon, para guru semedi tidak mengajarkan semedi posisi tidur karena akan membuat para murid menjadi malas. Padahal posisi inilah yang paling disukai para guru spiritual itu.

Sebab antara tidur yang normal dan semedi tidur hampir tidak ada bedanya sehingga saat melaksanakan semedi dalam posisi berbaring ini para guru tidak mengetahui apakah para murid itu sedang tidur atau sedang semedi. Para murid pun juga dengan mudah beralasan sedang melaksanakan semedi padahal sebenarnya sedang tidur. Sehingga pengetahuan tentang semedi dalam posisi tidur ini kebanyakan “disimpan” oleh kalangan guru spiritual dan hanya disampaikan bila para murid sudah mencapai tingkat tertinggi dan sudah akan “turun gunung” dari padepokan.

Setelah kita mengenal berbagai posisi semedi yakni meditasi duduk bersila, berdiri, berjalan, kita memasuki tahap semedi posisi berbaring tidur. Tidur merupakan aktivitas yang setiap orang pasti melakukan karena sangat penting bagi hidup. Berapa lama kita mampu bertahan tanpa tidur? Penelitian menunjukkan, batas maksimal tanpa tidur yang tercatat sejauh ini adalah 264 jam, atau sekitar 11 hari. Tanpa makanan bisa bertahan sekitar 40 hari. Adapun tanpa minuman, kita bisa bertahan sekitar 3 hari. Apabila diurutkan, berturut-turut paling vital dalam hidup manusia adalah udara, cairan, tidur, dan makanan. Udara menduduki peringkat pertama karena beberapa menit tanpa udara manusia sudah tidak dapat bertahan hidup. Sedangkan tidur menduduki peringkat ke 3.
Baca selanjutnya…

Mamfa’at Bunga Untuk Kesehatan

21 Desember 2009 1 komentar

TERNYATA, dari penelitian ilmiah, mandi bunga itu dapat membersihkan cakra sebagai pusat energi manusia yang pada proses selanjutnya dapat menguatkan medan aura. Maka, pengantin yang dalam kesehariannya nampak ”biasa-biasa” saja, setelah mandi bunga, memiliki daya magnet tersendiri yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa lebih terpesona karena ”kerja” dari auranya yang sudah dibersihkan.

Proses penguatan dan pembersihan aura itu, berawal dari meningkatnya kebugaran fisik dan psikisnya yang salah satunya didapatkan melalui mandi bunga. Bahkan, selain energi bunga, bau (harum) bunga-bunga tertentu itu, juga dapat mempengaruhi pusat saraf manusia untuk beraktivitas yang serba positif.

Dari berbagai literatur kitab-kitab klasik, manfaat bunga banyak kita temukan. Dan Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi pun banyak mengupas tentang manfaat bunga mawar yang disebut sebagai raja bunga, melati sebagai penenang, teratai, pacar atau inai, dan sebagainya. Dan yang membongkar total misteri di balik bunga itu, justru orang yang tidak pernah menjalani laku tirakat, yaitu, seorang dokter asal Inggris, Edward Bach pada tahun 1930.

Amoterapi

Selain energinya, bunga juga memiliki bau yang khas. Penelitian yang dilakukan beberapa dokter jiwa di Inggris, setiap berkumpul 100 holligan, maka di situ muncul bau khas, yang pada dasarnya bau itu tidak dapat dicium, namun hakikatnya ada. Yaitu, bau yang merangsang saraf massa untuk berprilaku brutal.

Yang menjadi pertanyaan, jika Tuhan menciptakan bau yang merangsang orang menjadi beringas, tentu Tuhan pun menciptakan bau khas yang lain sebagai penyeimbang dalam kehidupan. Artinya, ketika ada yang negatif, tentu ada yang positif. Diyakini sepenuhnya bau yang positif itu dapat diperoleh dari bau (harum) bunga-bungaan, dan dari sini pula kemudian muncul apa yang disebut Aromaterapi. Yakni, penyembuhan dengan memanfaatkan bau bunga-bungaan tertentu.

Sebelum tahun 1350 M Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi sudah mengupas tentang manfaat berbagai bunga. Misalnya, bunga mawar yang olehnya disebut sebagai bunga yang bermanfaat untuk memperkuat perut serta membantu pencernaan, dan sebagainya.

Nenek moyang kita meyakini bau khas bunga-bungaan yang pada umumnya wangi jika tercium, atau bentuknya yang indah jika dilihat, maka secara alami hal itu mendatangkan rasa nyaman dalam perasaan. Orang moderen menyebut proses ini dengan istilah rileksasi. Yaitu, mengendorkan trauma emosional sebagai penyebab utama datangnya penyakit.
Baca selanjutnya…

JOKE ALA SUFI

3 Desember 2009 3 komentar

JOKE ALA SUFI

MENYUAP

Suatu hari di alam kubur malaikat sedang mengintrogasi para arwah, hingga sampailah giliran itu pada salah seorang seorang ahli kubur.

Arwah : (dengan senyum manis dan sikap yang sangat pd)

Malaikat : Kenapa anda pd sekali, pada hal anda ini ahli dosa?

Arwah : Karena saya yakin, pasti saya ndak jadi dimasukin ke neraka.

Malaikat ; Alasan apa yang membuat anda yakin seperti itu?

Arwah : (Sambil cengengas-cengenges tiba-tiba sang arwah mengeluarkan amplop yang berisi cek yang bernilai milyaran rupiah)

Malaikat : Anda mau menyogok saya ya?

Arwah : (halaaah, trima saja, kan sudah tradisi).

Malaikat Termenung sejenak) kemudian dia membentak “enak aja, emangnya saya sama dengan para pejabat di negerimu dulu, pasti kamu orang ……………(sensor) ya?”

Arwah : (kaget) lho anda kok tahu…

Malaikat : sudah tradisi….sambil menggebuk kepala sang arwah sampai hancur berkeping.

PEDAGANG

Alkisah di salah satu sudut neraka, ada dialog sesama penghuni neraka.

A : Kenapa anda masuk neraka? Baca selanjutnya…

Jangan pake jilbab

18 November 2009 1 komentar

Seorang ikhwah baru saja menempati kostnya yang baru. Ia sendirian di kamar melepas lelah sambil menatap langit-langit. Kesibukan menyelenggarakan training keislaman di Musholla tadi membuat ia baru bisa merebahkan badannya sekarang. Suasana hening, karena penghuni kost lainnya sedang pulang kampung. Dari balik dinding masih sedikit terdengar percakapan Ibu pemilik kost dengan anaknya.

Anak : Bu

Ibu : Hmmm ?

Anak : BU !

Ibu : APA ?

Anak : Mmm, anu … Saya tadi baru ikut pengajian rohis di Musholla sana itu. BU ! DENGERIN DONG !

Ibu : IYA ! Ibu ndengerin koq. Terus aja. Maaf, Ibu lagi repot nih. Susah banget masukin benang ke jarum ini sekarang. Rasanya mata ibu udah mulai rabun, ‘kali ya ?

Anak : Bu !

Ibu : Apa sih ? Mau omong apa, Yang ?

Anak : Tadi, di sana seorang ustadz mbahas soal jilbab. Katanya pake jilbab itu wajib. Bu, Mulai sekarang saya mau pake jilbab. Gimana Bu ?

Ibu : Jangan … Baca selanjutnya…

Aku kelaparan

13 November 2009 Tinggalkan komentar

Aku yang sejati berada di alam kelaparan
Dan lumbungku berada dalam sentosa

bila tikus-tikus memakan padi dengan loba,
sekam tersaji sebagai sisa

Akankah ku biarkan kemiskinan melanda ruhani ?
Haruslah ku curi sebagian didalam lumbung padi

Supaya sama rata yang ada; di lumbung dan di aku
Barulah seimbang timbangan diri.

Teruntuk Para Kiyai

13 November 2009 2 komentar

Pohon padi tunduk berisi, tapi bagaimana dengan Kyai?
makin berisi makin menjadi-jadi.

Mengaji… Mengaji… Teruslah mengaji!
Tapi apa yang terkaji, jika hati merasa suci.

Mengajar… Mengajar… Teruslah mengajar!
Tapi apa terpelajar, jika merasa paling benar.

Perintah… Perintah… Teruslah memerintah!
Tapi jangan hanya perintah, jika tak sudi buang sampah.

Singsingkan lengan baju, Jangan takut gamis ternoda.
Lepaskan terompah baru, berjalanlah tanpa mahkota.

:Surga di bawah telapak kaki, bukan dibesarnya kepala.

Camkan Itu!

Gelar Haji

13 November 2009 3 komentar

Ibadah haji adalah salah satu ritual keagamaan bagi umat Islam. Termasuk dalam rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi mereka yang mampu baik dari sisi rohani, jasmani maupun materi.

Setelah menunaikan ibadah haji selalu saja ada penambahan titel alias gelar HAJI dan disingkat “H” pada sebelum penulisan namanya. Mungkin ini semacam penghargaan oleh masyarakat. Namun ada juga yang karena sudah berhaji jika nggak disebut atau ditulis gelar-nya tersebut marah-marah karena merasa nggak dihargai.
Baca selanjutnya…