Arsip

Posts Tagged ‘Memaknai diri’

Iman yang Titik-titik …

16 Januari 2011 3 komentar

Yang Islam belum tentu beriman
Yang beriman kebanyakan membisu
Yang disanjung biasanya culas
Yang tidak culas biasanya di cuekin

Yang istiqomah tak berduit
Yang berduit hobinya main kuntit

Yang faham agama tak mau berjihad
Yang mau berjihad tak faham agama
Yang berilmu luas tak pernah punya waktu
Yang punya waktu berilmu terbatas
Yang berjalan penuh kedengkian di Agungkan
Yang penuh kasih sayang dipinggirkan
Dulu Muawiyah berkuasa
Lalu diruntuhkan Abbasyiah
Khalifah dihancurkan Dinasti
Dinasti diluluhkan Kesultanan
Kesultanan dihuni penjilat kekuasaan
Musuh dalam selimut menggulung di tengah malam
Islam digadaikan demi harta dan keturunan
Iman diletakkan di pojok Masjid yang gelap
Yang mencerai berai disanjung dipuja
Yang mempertahankan keimanan dimusuhi
Kemunafiqan dan kesombongan dihormati
Yang menjaga Al-Qur’an dan Sunnah dijauhi Baca selanjutnya…

Iklan

Penjelasan Wejangan Serat Wirid Hidayat Jati

14 Februari 2010 38 komentar

Penjelasan Wejangan Serat Wirid Hidayat Jati

Kang Boed

Wejangan ke-1 Ananing Dzat

Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, sajatine kang maha suci anglimputi ing sipat Ingsun, anartaning asman Ingsun, amratandhani ing apngalIngsun. (Sesungguhnya tidak ada apa-apa karena pada waktu masih dalam keadaan kosong, belum ada sesuatupun, yang ada hanyalah Aku. Tidak ada tuhan selain Aku. Aku adalah hakikat Zat yang Maha Suci yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku, dan yang menandai perbuatanKu.).

Penjelasan;

Yang menyatakan sebagai Dzat yang Maha Suci ialah hidup kita pribadirupa kita pribadi diliputi warna Dzat yang Elok, menyertai nama ialah nama kita pribadi yang diakui sebagai Dzat yang Kuasa, sebagai tandanya tingkah laku kita pribadi mencerminkan perbuatan Dzat yang Sempurna. dengan bertambahnya rahsa Dzat yang Agung, semua sifat ialah

Dzat mempunyai sifat seperti gula dan manisnya (tak dapat dipisahkan), sifat menyertai nama seperti matahari dan sinarnya (tak dapat dibedakan), nama menandai perbuatan seperti cermin dan bayangannya (perbuatan selalu mengikuti), sedang perbuatan menjadi wahana Dzat seperti samudera dan ombaknya.

Wejangan ke-2 Wahananing Dzat (Tempat Zat)

Sajatine Ingsun dat kang amurba amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning apngal Ingsun kang minangka bebukaning iradat Ingsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam ngadam makdum ajali abadi. Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalarat Ingsun.

Sesungguhnya AKU adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna karena kodratKU, di situ telah nyata tanda perbuatanKU yang sebagai pembuka kehendakKU, yang pertama AKU menciptakan Kayu bernama Sajaratul yakin tumbuh di dalam alam adam makdum (hampa kosong) yang azali dan kekal abadi. Kemudian Cahaya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atul haya’i, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, pelita bernama ‘Kandil’, Permata (sesotya) bernama Dharrah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. yang menjadi sekat penampakan-Ku.
Baca selanjutnya…

Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar

7 Februari 2010 79 komentar

1. Syahadat (Sasahidan Ingsun Sejati)

Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat mengucapkannya, walau kebanyakan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi.

Ketika kita mengucakan kata “Allah”, maka kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan yang mendalam. Pada saat pengucapan, kita harus yakin bahwa Allah “ada” pada diri nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu hal yang selalu hidup. Dan ketika person nabi terakhir diberi label “Muhammad”, maka ia adalah langsung dari nur dan ruh Muhammad, dan menyandang nama spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata “Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa mim), yakni “Ahad”. Ketika suku bangsa dzahir “arab” disebutkan, beliau sering mengemukakan “ana ‘arabun bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni “Rabb”. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.

Kalau kita membayangkan nabi secara fisikal maka kita akan menghayalkan tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati kita, maka terlepaslah ucapan “Muhammad al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat Allah. Sehingga kemudian tercipta apa yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji”, kemanunggalan dengan Allah sehingga baik yang memuji dan yang dipuji tidak dapat dipisahkan.

Pada konteks syahadat yang seperti itulah kemudian lahir ajaran tentang “wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)

Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.

Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku

Baca selanjutnya…

Belajar Mengenal Diri Dari Serat Asmaralaya

27 Desember 2009 3 komentar

Dalam budaya Jawa banyak serat yang diciptakan oleh nenek moyang kita. Salah satunya adalah Serat Asmaralaya. Jika kita mempelajari serat Asmaralaya tersebut, maka kita akan mengetahui dunung kita pribadi.

Dalam sebuah hadist di ajaran Islam disebutkan “Barangsiapa yang mengetahui dirinya sendiri, maka ia akan tahu Tuhannya”. Nah, kalau Anda ingin mengetahui diri Anda pribadi, tidak ada salahnya belajar pada Serat Asmaralaya. Serat Asmaralaya tersebut antara lain berbunyi:

Ana wiku medhar ananing hyang agung
kang nglimputi dhiri
wayangan nya dumumung neng netranira
bunder nguwung lir sunaring surya nrawung
aran nur muhammad
weneh muwus jatining kang murbeng idhup
yaiku pramana
kang misesa ing sakalir
dumuning neng utyaka guruloka
iya iku tembung arab baitul makmur

Ada Orang Bijak menjelaskan adanya Hyang Agung
Yang menyelimuti diri
Gambarannya ada pada Matamu sendiri
Bentuknya bundar memancarkan sinar surya yang menerawang
Yang dijuluki Nur Muhammad
Memberikan kesejatian dalam hidup
Yaitu pramana
Yang menguasai segalanya
Letaknya ada di guruloka
Yaitu bahasa Arabnya baitul makmur

Tandane kang nyata
aneng gebyaring pangeksi
lwih waspada wruh gumlaring alam donya
mung pramana kang bisa nuntun marang swarga
ana rupa kadya rupanta priyangga
kang akonus saking kamungsangta wus
saplak nora siwah
amung mawa caya putih
yaiku aran mayangga seta

Tandanya yang nyata
Ada dalam gebyar angan-angan
Lebih waspada tahu gumelarnya alam dunia
Hanya pramana yang bisa menuntun ke Surga
Ada bentuk rupa seperti rupa orang
Yang mengaku dari prasangka
Yang tidak berbeda satu dengan lainnya
Hanya lewat cahaya putih
Yang disebut Mayangga Seta

Baca selanjutnya…

Sya’ir Cinta Rumi

5 Desember 2009 Tinggalkan komentar

Cinta mengubah kepahitan menjadi manis

tanah dan tembaga menjadi emas

yang keruh menjadi jernih

si pesakitan menjadi sembuh

penjara menjadi taman

derita menjadi nikmat

kekerasan menjadi kasih sayang


Cintalah yang telah melunakkan besi

mencairkan batu

membangkitkan yang mati

meniupkan kehidupan pada jasad tak bernyawa

mengangkat hamba menjadi sang majikan

.

Baca selanjutnya…

Tentang Ruh

30 November 2009 10 komentar

Didalam agama Islam, ruh atau roh sangat sedikit disebutkan penjelasannya, tapi walaupun sedikit kalau tidak disia-siakan atau di syukuri akan menjadi banyak. Menurut Al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 17 yg artinya “Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sangat sedikit”. Jadi manusia itu diberi pengetahuan tentang roh itu secara luas apabila yg sedikit itu tidak disia-siakan dan menjadi sangat sedikit apabila yg sangat sedikit itu dianggap sangat sedikit, jadi semuanya tergantung persepsi masing2.

Berikut ini adalah penjelasan dan bagian2 dari roh yg kesemuanya ada 9 macam dari literatur yg saya miliki, sama sekali tidak bermaksud untuk menggurui atau sok tahu karena saya hanya menulis apa adanya yg ada dan hanya mau berbagi saja.
1. roh idofi atau roh ilofi
Adalah roh yg sangat utama bagi manusia. Roh idofi juga disebut “johar awal suci”. Karena roh inilah manusia dapat hidup, bila roh ini keluar dari raga maka manusia yg bersangkutan akan mati, roh ini sering disebut “nyawa”.
Roh idofi adalah sumber dari roh2 lainnya, apabila roh idofi keluar dari raga maka akan diikuti roh2 lainnya, sebaliknya apabila salah satu dari yg delapan itu keluar maka roh idofi akan tetap tinggal dan manusia itu masih hidup.
Bagi yg sudah pada tahap iradat Tuhan atau kebatinan tingkat tinggi, tentu akan bisa menjumpai roh ini dengan penglihatannya, dan wujudnya mirip diri kita sendiri, baik rupa,suara dan segala sesuatunya bagai bercermin didepan cermin saja.
Meskipu roh2 lain juga demikian tapi kita dapat membedakannnya dengan yg satu ini karena alam roh idofi berupa cahaya terang benderang dan rasanya sejuk tenteram(bukan dingin), dan tentu saja kita bisa menjumpainya apabila kita sudah sampai pada tingkat “Insan Kamil”.
2. Roh Rabbani
roh ini dikuasai oleh roh idofi, alamnya roh ini bagi yg bisa menjumpainya ada didalam nur berwarna kuning diam tak bergerak. Bila kita menjumpainya kita tak mempunyai kehendak apa2, hatipun tenteram, tubuh tak merasakan apa2
3. Roh Rohani
Roh inipun dikuasai oleh roh idofi, karena adanya roh rohani ini maka manusia memiliki kehendak dua rupa, kadang2 suka dan kadang2 tidak suka. Roh ini memp[engaruhi perbuatan baik dan buruk. Roh rohani ini menempati pada 4 jenis nafsu, yaitu: nafsu luawamah, nafsu amarah, nafsu sufiyah, nafsu mutmainah. Kalau manusia ditinggalkan roh rohani ini maka manusia tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia roh inilah yg mengendalikannya, oleh karena itu apabila manusia bisa mengendalikan roh rohani dgn baik maka akan hidup dalam kemuliaan.
Roh rohani ini sifatnya mengikuti penglihatan yg melihat, dimana pandangan kita tempatkan maka disitu roh rohani berada. Sebelum kita menjumpainya, terlebih dahulu kita melihat bermacam-macam cahaya bagai kunang2, setelah cahaya tsb menghilang, barulah muncul roh rohani itu.
4. Roh Nurani Baca selanjutnya…

Mencari Hakekat

30 November 2009 1 komentar

Benarkah langit itu biru, taman itu hijau dan pasir itu putih.

Benarkah madu itu manis, maja itu pahit.

Apakah kayu itu benda kaku, sutera itu lemas.

Benarkah batu itu benda mati.

Betulkah kaca itu bening, tembok itu masif tak tembus cahaya.

*

Tentu saja tidak.

Semua yang bisa dilihat, diraba, dicium dan dirasa bukanlah hakekat. Cahaya yang terbias melalui prisma terurai menjadi tujuh. Apakah tujuh warna itu hakikat?

Tidak.

Tujuh warna adalah spektrum panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun itulah keterbatasan mata manusia.

Kelemahan mata kita adalah nikmat Allah sebagai indera yang tidak mampu melihat spektrum gelombang dan merasakan getaran frekuensi sebagai getaran. Yang terjadi hanyalah reaksi saraf di selaput jala mata yang menerima getaran dan meneruskan ke pusat syaraf di otak yang menterjemahkan getaran berita syaraf menjadi warna dan bentuk.

Tetapi gelombang cahaya bukanlah warna. Daun yang hijau bukanlah hijau.

Hijau adalah bahasa otak yang menerima getaran syaraf berdasarkan informasi selaput jala dari sejumlah getaran gelombang dengan frekuensi tertentu yang datang ke arah kita setelah ditolak oleh daun yang menerima cahaya.

Warna-warna pada hakikatnya adalah bukan warna.

*** Baca selanjutnya…