Inilah Alasan Kenapa Mereka Membenci Jokowi Dan Ahok

19 November 2014 2 komentar

Inilah Alasan Kenapa Mereka Membenci Jokowi Dan Ahok

Inilah Alasan Kenapa Mereka Membenci Jokowi Dan Ahok


Setelah era Soeharto 98, tiada lagi kekuatan politik dominan. Siapa pun yang berkuasa harus berbagi. Jika tidak, yang lain akan bersatu dan merongrong. Ketegasan dipelintir menjadi anti-demokrasi & HAM. Ormas sosial, agama pun diciptakan sebagai garda depan untuk order politik tanpa majikan harus turun tangan.

Jangan anda pikir Pemilihan Langsung adalah hasil perjuangan demokrasi parpol. Pemilihan Langsung adalah jalan tengah agar semua parpol tetap memiliki posisi tawar. Karena seperti tender pemerintahan, partai politik berkompetisi dengan aturan tak tertulis. Yang menang mendapat bagian terbesar namun yang kalah juga tetap dapat bagian. Jika ada yang tidak puas, serangan dan gosip mulai muncul sampai adanya kesepakatan/deal.

Ini terjadi karena tidak ada sosok yang bersih di elite politik. Masing-2 memegang kartu dosa yang lain. Bahkan untuk meredam gejolak sosial 250juta rakyat, pegawai negeri diperbanyak dan dimanjakan. Akibatnya dana yang harusnya dinikmati rakyat untuk pembangunan terpaksa dialokasikan untuk kepentingan berjemaah, dari yang besar sampai yang kecil. Hutang negara makin bertambah. Yang berani menaikkan BBM akan menanggung resiko popularitasnya akan jatuh.

Tokoh bersih yang muncul dan lewat tidak akan di-ijinkan masuk oleh sistem politik. Mereka hanyalah hiasan prestasi untuk menghibur rakyat. Jabatan pun tidak tinggi, jauh dari pusat kekuasaan dan dapat dihancurkan kapan saja. Lagipula, banyak yang hanya pencitraan untuk komoditas politik dengan nilai jual popularitas.

Tidak ada ceritanya sosok bersih mampu menerobos sistem politik Indonesia. Sampai sesuatu yang mustahil terjadi.

Seorang capres yang sebenarnya sudah no.1 di polling merasa galau. Karena sering menyaksikan akrobat politik, ia kuatir posisinya belum aman, apalagi catatan sejarah nya kelam. Dia harus melakukan sesuatu untuk menebus dan merebut hati rakyat saat Pilpres nanti. Cara yang dahsyat dan instan adalah mendatangkan superstar yang bisa merebut hati rakyat.

Dan mujizat itu pun terjadi. Seperti Indonesia Idol, tiba-tiba saja 2 putra terbaik bangsa muncul di panggung politik ibukota, pusat kekuasaan melewati semua filter politik yang ada. Tanpa capres tadi, mustahil mereka berdua dapat tampil.

Mengapa ini bisa terjadi? Mereka berdua dianggap ‘aman’. Jokowi adalah pengusaha, bukan sosok yang ambisius. Jangankan Presiden, untuk Gubernur Jateng saja PDIP tidak mendukungnya. Ahok apalagi. Triple minoritas Tionghoa-Kristen-Non.Jawa. Aman.

Jika kalah melawan koalisi raksasa di belakang Foke, rakyat yang tidak puas akan membalas dengan memilih capres tersebut di Pilpres nanti. Menang-kalah, sang capres tetap menang. Win-Win.

Ternyata Jokowi – Ahok menang. Rakyat Jakarta mencintai dua pemimpin baru ini. Sempurna. Semua berjalan sesuai rencana sang Capres. Hanya saja ternyata Jokowi – Ahok memiliki paduan keberanian, kecerdasan dan integritas yang sampai saat ini, tidak bisa dibeli. Kompak lagi berdua. Namun okelah, bisa apa sih dua orang melawan Pemprov Jakarta?

Para politikus Indonesia tidak sadar siapa yang mereka hadapi.

Jokowi dan Ahok ternyata kreatif dan cerdas. Mereka memiliki strategi yang tidak di-mengerti para politikus yang hanya tahu konspirasi dan mengatur proyek.

Keresahan mulai terjadi. Dapur, bobrok Pemprov DKI satu-persatu dibuka dan ditelanjangi. Dengan YouTube dan blusukan, pengaruh media politik tidak dapat lagi digunakan untuk menggiring opini. Keran yang deras berlimpah mulai macet. Ancaman mulai terlihat.

Seperti biasa, pasukan kegelapan pun diturunkan. Namun hasilnya luar biasa. Siapa pun yang menyerang Jokowi Ahok pasti dihabisi rakyat. Parpol pun dilema. Mau melawan, Pemilu sudah dekat. Jika melawan Jokowi-Ahok, popularitas akan turun dan lawan politik nya yang akan menikmati.

Dukungan rakyat makin tak terbendung. Beribu sukarelawan muncul, menjadi corong di seluruh negeri untuk harapan baru. Bagaimana mungkin melawan relawan tak berbayar alias gratis? Pengaruh Jokowi-Ahok berkembang seperti virus. Jokowi-Ahok baru mulai bermunculan di daerah. Ditambah politikus yang ‘lebih bersih’ dengan jeli membaca situasi dan mengikuti gerbong. Tiba-tiba saja aturan permainan berubah. Terbalik. Parpol sekarang tidak powerful lagi. Pemilihan Langsung yang tadinya untuk berbagi kekuasaan menjadi ancaman mematikan.

Akhirnya tibalah saat itu. Megawati merestui Jokowi sebagai capres. Perhatikan saat beliau mengatakan perjalanan Jokowi adalah kehendak Ilahi.

Sebagai politikus berpengalaman, beliau sadar sekalipun ia mau belum tentu Jokowi yang bukan siapa-2 dapat diterima elite PDIP. Ini hanya dapat terjadi karena campur tangan Tuhan yang bekerja secara ajaib melalui… (ironisnya) Prabowo.

Namun elite politik masih percaya Jokowi hanyalah salah satu dari mereka. Paling ujung-2nya harga lebih mahal doang, demikian pikir mereka. Lagi-lagi mereka salah. Jokowi bukanlah politikus yang biasanya mereka hadapi. Amien Rais yang awalnya menggertak akhirnya merayu memasangkan Jokowi dengan Hatta. ARB yang berpikir menjadi kunci Jokowi vs Prabowo juga kecele. Jokowi hanya mau ‘Tanpa Syarat’. Dia tidak mau disandera seperti SBY. (Catatan. Meskipun secara realitas Tanpa Syarat itu tidak mungkin 100%, namun Jokowi memegang kontrol jauh melebihi SBY)

Kepanikan mencapai puncaknya. Untuk pertama kali, elite-elite yang merasa terancam bergabung dalam KMP. Mungkin anda bisa membayangkan sebesar apa kepanikan mereka sampai mau bergabung dengan lawan-lawan mereka sendiri. UU MD3 dalam hitungan hari dikebut untuk menghadang Jokowi nanti. Hanya itu satu-2nya cara mereka untuk selamat.

Jokowi dan Ahok adalah ancaman besar bagi kekuatan yang selama ini berkuasa di Indonesia. Selama ini Eksekutif, Legislatif dan jajaran pemerintahan mengelola dana 1,850 Trilyun (APBN 2014) dan memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi market 8.600 Trilyun (GDP resmi tahunan 2014). Dana sebesar itu yang biasa di-manipulasi satu persatu dibuka ke publik secara transparan. Jika hal ini berlangsung terus, bisa dipastikan pesta sudah berakhir. Semua akan terang benderang. Jejaring berlipat dari elite sampai pegawai negeri mendadak terbuka begitu saja.

Sekedar cerita, Ahok pernah mendapat tawaran dana sosial dari bos besar. Namun Ahok meminta proyek sosial itu dijalankan secara swadaya karena.. bila masuk kas Pemprov bisa nunggu 3-tahun lagi sampai dana itu bisa digunakan. (itu pun kalo bisa). Saya bergidik membayangkan kengerian anak-2 nya saat melihat ribuan orang yang ingin menghabisi ayahnya. Semua itu hanya karena sang ayah mencintai Indonesia.

Di YouTube, saya melihat Presiden Indonesia yang kurus, tidak gagah dan berwibawa ala SBY. Dengan bahasa Inggris seadanya, terbata-bata dia berusaha mencari pendanaan Luar Negeri karena sadar tidak bisa mengandalkan dana APBN yang harus melewati KMP.

Sekarang terserah anda.

Jika ada yang masih menuduh Jokowi pencitraan atau mempermasalahkan ‘santun’-nya Ahok, mungkin memang itulah karakter bangsa ini.

Salam Indonesia Raya

Sumber: Kompasiana

7 Kelebihan Setan yang Patut Kita Tiru

20 Januari 2011 19 komentar

Setan dan manusia memang pada dasarnya 2 makhluk yang berbeda. Manusia pada umunya pasti benci kepada setan. Namun, di balik niat jahatnya ternyata setan mempunyai banyak sifat “yang perlu kita tiru”

7 Kelebihan Setan Dibandingkan Manusia!!!!!

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Kreatif
Setan akan mencari cara apapun dan bagaimanapun untuk menggoda manusia agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas. Baca selanjutnya…

Iman yang Titik-titik …

16 Januari 2011 3 komentar

Yang Islam belum tentu beriman
Yang beriman kebanyakan membisu
Yang disanjung biasanya culas
Yang tidak culas biasanya di cuekin

Yang istiqomah tak berduit
Yang berduit hobinya main kuntit

Yang faham agama tak mau berjihad
Yang mau berjihad tak faham agama
Yang berilmu luas tak pernah punya waktu
Yang punya waktu berilmu terbatas
Yang berjalan penuh kedengkian di Agungkan
Yang penuh kasih sayang dipinggirkan
Dulu Muawiyah berkuasa
Lalu diruntuhkan Abbasyiah
Khalifah dihancurkan Dinasti
Dinasti diluluhkan Kesultanan
Kesultanan dihuni penjilat kekuasaan
Musuh dalam selimut menggulung di tengah malam
Islam digadaikan demi harta dan keturunan
Iman diletakkan di pojok Masjid yang gelap
Yang mencerai berai disanjung dipuja
Yang mempertahankan keimanan dimusuhi
Kemunafiqan dan kesombongan dihormati
Yang menjaga Al-Qur’an dan Sunnah dijauhi Baca selanjutnya…

Semoga korupsi diindonesia segera musnah

9 Januari 2011 1 komentar

STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia
Sebuah kalimat yang harus, bahkan wajib terus disuarakan.
Sebab jenuh sudah aku melihat negeri ini dalam keterpurukan.

Keterpurukan yang takkan pernah sirna jika Korupsi masih merajalela.

Andai saja tak ada Korupsi, mungkin Negeri ini telah menjadi salah satu Negeri terkaya didunia.
Sebab Kekayaan Alam yang dimilikinya, sungguh-sungguh sangat tiada duanya.

STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia
Agar Rakyat Makmur sejahtera.
Sehingga airmaku tak perlu lagi jatuh, saat melihat kemelaratan dimana-mana.

Hakekat Ma’rifat Menurut Walisongo Dan Syekh Siti jenar

24 Oktober 2010 19 komentar

Terjemahan Bebas Serat Centhini Jilid I, Pupuh 38 pada 14 dumugi 44. Yasandalemm KGPAA Amengkunagara III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) ing Surakarta. Kalatinaten Miturut Aslinipun dening : Kamajaya. Penerbit Yayasan Centhini, Yogyakarta 1986.

Dahulu Sunan Têmbayat, pernah memberikan cerita kepadaku, cerita tentang Eyang Buyut-mu (Sunan Têmbayat), kala tengah berkumpul dengan para Wali semua, mewedarkan mutiara ilmu, Sunan Giri mengingatkan Saat nanti telah berkumpul, jangan saling berebut kebenaran sendiri-sendiri.

Dibuat sebagai pelajaran luhur, di Giri Gajah tempatnya, tempat untuk bermusyawarah, oleh para Wali sembilan, di Argapura tepatnya, letak keraton Sang Ratu Agama (Sunan Giri).

Sekuruh Wali diminta hadir, oleh Prabu Satmata (Sunan Giri), Sunan Benang diminta hadir pula, lantas Sunan Kalijaga, lantas Sunan Ngampeldhênta (Sunan Ampel), Sunan Kudus juga diminta hadir, juga Syeh Siti Jênar.

Syeh Bêntong ikut diminta hadir, juga Pangeran Palembang, Panêmbahan Madura juga, semua menghadap ke Giri Liman (Giri Gajah ~ Liman : Gajah. Keraton Sunan Giri), berkata Prabu Satmata (Sunan Giri), Syukurlah semua lengkap hadir, semua berkenan datang ke Giri Gajah.

Aku harapkan semua bersatu pendapat, jangan sampai berdebat sendiri, satukan kehendak, saat mewedarkan mutiara ilmu, membuka rahasia, jangan terlalu banyak memakai bahasa kias, jabarkan saja apa adanya.

(Kanêng Sunan Benang berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, adalah Dzat Sifat Af’al Allah, sangat nyata didalam Kesadaran hamba, Dzatullah-lah yang menguasai, dan berwenang dalam badanku.

Kanjêng Adiluwih (Sunan Kalijaga) berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Kesadaran-lah yang patut menjadi namaku, patut menjadi nama Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Hyang Suksma Yang Luhur, (patut menjadi) nama dari Sang Hidup dan nama seluruh semesta.

(Kanjêng Suhunan Giri-wêsthi berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, terdiri dari Iman (Keyakinan~maksudnya adalah jasad halus) Urip (Hidup~maksudnya adalah Roh) dan Nugraha (Anugerah~maksudnya adalah jasad kasar), Sang Hidup tak lain adalah Allah itu sendiri, begitulah pemahamanku.
Baca selanjutnya…

Semedhi / Meditasi Tidur

14 Februari 2010 17 komentar

Salah satu cara Nabi mendapatkan wahyu adalah saat dia tidur. Ada apa dengan tidur?

Ini adalah rahasia besar yang disimpan dan disembunyikan selama berabad-abad oleh kaum sufi, orang-orang sakti dan winasis, kaum mistikus agama apapun sepanjang masa. Rahasia tentang bagaimana mendapatkan pandangan ilham, pencerahan dan kebijaksanaan. Rahasia terbesar itu adalah semedi dengan cara yang nyaris sama dengan kalangan umum yaitu dalam posisi tidur. Enak, nyaman sekaligus mendapatkan pencerahan. Sudah dicontohkan oleh para nabi, utusan, avatar bagaimana melaksanakan berbagai posisi yang mampu mengantarkan para penganutnya untuk mendapatkan pencerahan. Mulai dari posisi duduk (ini yang paling banyak diketahui), posisi berdiri maupun posisi berjalan. Sedikit yang mengetahui namun tidak atau jarang diajarkan di forum-forum spiritualis adalah melaksanakan semedi dalam posisi tidur. Konon, para guru semedi tidak mengajarkan semedi posisi tidur karena akan membuat para murid menjadi malas. Padahal posisi inilah yang paling disukai para guru spiritual itu.

Sebab antara tidur yang normal dan semedi tidur hampir tidak ada bedanya sehingga saat melaksanakan semedi dalam posisi berbaring ini para guru tidak mengetahui apakah para murid itu sedang tidur atau sedang semedi. Para murid pun juga dengan mudah beralasan sedang melaksanakan semedi padahal sebenarnya sedang tidur. Sehingga pengetahuan tentang semedi dalam posisi tidur ini kebanyakan “disimpan” oleh kalangan guru spiritual dan hanya disampaikan bila para murid sudah mencapai tingkat tertinggi dan sudah akan “turun gunung” dari padepokan.

Setelah kita mengenal berbagai posisi semedi yakni meditasi duduk bersila, berdiri, berjalan, kita memasuki tahap semedi posisi berbaring tidur. Tidur merupakan aktivitas yang setiap orang pasti melakukan karena sangat penting bagi hidup. Berapa lama kita mampu bertahan tanpa tidur? Penelitian menunjukkan, batas maksimal tanpa tidur yang tercatat sejauh ini adalah 264 jam, atau sekitar 11 hari. Tanpa makanan bisa bertahan sekitar 40 hari. Adapun tanpa minuman, kita bisa bertahan sekitar 3 hari. Apabila diurutkan, berturut-turut paling vital dalam hidup manusia adalah udara, cairan, tidur, dan makanan. Udara menduduki peringkat pertama karena beberapa menit tanpa udara manusia sudah tidak dapat bertahan hidup. Sedangkan tidur menduduki peringkat ke 3.
Baca selanjutnya…

Penjelasan Wejangan Serat Wirid Hidayat Jati

14 Februari 2010 36 komentar

Penjelasan Wejangan Serat Wirid Hidayat Jati

Kang Boed

Wejangan ke-1 Ananing Dzat

Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, sajatine kang maha suci anglimputi ing sipat Ingsun, anartaning asman Ingsun, amratandhani ing apngalIngsun. (Sesungguhnya tidak ada apa-apa karena pada waktu masih dalam keadaan kosong, belum ada sesuatupun, yang ada hanyalah Aku. Tidak ada tuhan selain Aku. Aku adalah hakikat Zat yang Maha Suci yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku, dan yang menandai perbuatanKu.).

Penjelasan;

Yang menyatakan sebagai Dzat yang Maha Suci ialah hidup kita pribadirupa kita pribadi diliputi warna Dzat yang Elok, menyertai nama ialah nama kita pribadi yang diakui sebagai Dzat yang Kuasa, sebagai tandanya tingkah laku kita pribadi mencerminkan perbuatan Dzat yang Sempurna. dengan bertambahnya rahsa Dzat yang Agung, semua sifat ialah

Dzat mempunyai sifat seperti gula dan manisnya (tak dapat dipisahkan), sifat menyertai nama seperti matahari dan sinarnya (tak dapat dibedakan), nama menandai perbuatan seperti cermin dan bayangannya (perbuatan selalu mengikuti), sedang perbuatan menjadi wahana Dzat seperti samudera dan ombaknya.

Wejangan ke-2 Wahananing Dzat (Tempat Zat)

Sajatine Ingsun dat kang amurba amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning apngal Ingsun kang minangka bebukaning iradat Ingsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam ngadam makdum ajali abadi. Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalarat Ingsun.

Sesungguhnya AKU adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna karena kodratKU, di situ telah nyata tanda perbuatanKU yang sebagai pembuka kehendakKU, yang pertama AKU menciptakan Kayu bernama Sajaratul yakin tumbuh di dalam alam adam makdum (hampa kosong) yang azali dan kekal abadi. Kemudian Cahaya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atul haya’i, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, pelita bernama ‘Kandil’, Permata (sesotya) bernama Dharrah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. yang menjadi sekat penampakan-Ku.
Baca selanjutnya…